Slide 1

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 2

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 3

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 4

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 5

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Showing posts with label Wisata Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Wisata Kuliner. Show all posts

Friday, April 1, 2011

"jeJamuran" : Makanan Maknyuss dari Aneka Jenis Jamur

Oleh : Lian Dewi Angellia

Pernahkah Anda menyantap nikmatnya makan sate ayam, rendang daging, tongseng kambing, pepes ikan, peyek teri, lumpia ayam, keripik singkong? Pernahkah Anda membayangkan semua menu itu dengan rasa yang sama tetapi diubah bahan utamanya menjadi jamur? 

Jika Anda pecinta kuliner tapi bermasalah dengan kesehatan seperti kolesterol atau asam urat, "jeJamuran" solusinya karena warung ini menawarkan berbagai sajian masakan nikmat dan sehat dengan menggantikan semua bahan utamanya dengan aneka jamur. 


Lokasi dari warung makan "jeJamuran" ini terletak di daerah Niron, Pendawaharjo, Sleman. Kalau dari arah Jogjakarta, kita bisa melewati Jalan Magelang lurus terus hingga melintasi ring road lingkar utara. Setelah melewati lapangan nDenggung Sleman, 1 km dari situ (kira2 di Jalan Magelang km 10.5) ada perempatan belok saja ke kanan (ke arah timur). Warung makan "jeJamuran" terletak 1 km lagi. Posisi warungnya ada di sebelah kiri jalan (utara jalan). Kira2 100-200 meter dari perempatan tersebut (sebelah kanan jalan - selatan jalan) sebenarnya ada juga warung jamuran dan ikan bakar dengan warna papan nama yang hampir sama, tapi bukan itu yang saya maksud.

Papan nama penunjuk arah menuju ke warung "jeJamuran" bisa ditemukan disetiap sisi jalan menuju ke lokasi tersebut, ada di Jalan Magelang dan juga bisa ditemukan bila Anda melewati jalan Monjali.

Papan Nama Penunjuk Arah 
Ketika sampai di warung "jeJamuran", kita akan melihat papan nama besar di depan pintu masuk warung tersebut. Bagi Anda yang membawa motor, parkirnya lumayan dekat karena hanya di depan pintu masuknya saja, sedangkan untuk parkir mobil, area yang disediakan cukup besar kira-kira 50 meter di sebelahnya.

Warung ini didesain secara etnis jawa dengan interior yang tradisional tapi terkesan mewah. Meja dan kursi yang disediakan lumayan banyak, terdapat toilet yang bersih, dan musholla.

Papan Selamat Datang
Pintu Masuk Warung Makan "Jejamuran"
Menurut pak Wiranto, salah satu tukang parkir motor di depan warung ini, waktu buka warung ini adalah pukul 09.00 - 21.20 WIB (untuk order terakhir). Waktu sibuk warung ini sekitar pukul 12.00 hingga pukul 15.00 WIB. Untuk acara-acara tertentu seperti meeting, pesta ulang tahun, dan syukuran bisa memesan terlebih dahulu dengan booking tempat. Tapi khusus hari Minggu dan hari libur, tidak diterima order untuk booking acara tertentu, karena biasanya di hari tersebut peminat "jeJamuran" sudah meluap.

Di dalam warung ini, akan banyak dijumpai contoh budidaya dari jamur yang digunakan untuk mengolah masakan. Jamurnya pun bermacam-macam, yaitu ada jamur kuping, jamur kancing, jamur merang, jamur tiram, dan aneka jamur yang lainnya. 

Koleksi budidaya jamur
Menu yang disajikan di warung makan ini sangat bervariatif, mulai dari sate jamur, rendang jamur, tongseng jamur, pepes jamur, jamur goreng tepung, telur dadar jamur, jamur asam pedas, jamur bakar pedas, jamur goreng penyet, sop jamur, lumpia jamur, tumis jamur lombok ijo, sup krim jamur, tom yum jamur, dan gudeg jamur.

Harga yang dipatok untuk masing-masing menu pun cenderung murah, berkisar dari Rp 3.000/per potong lumpia hingga paling mahal Rp 15.000/porsi (untuk telur dadar jamur dan jamur asam manis), sedangkan menu lainnya rata-rata seharga Rp 8.000 dan Rp 10.000/porsi.

Untuk rasa, saya dan suami menilai jauh dari perkiraan kami, karena kenikmatan yang disajikan benar-benar seperti menyantap makanan dengan bahan bukan jamur. Seperti rasa sate-nya, sangat mirip sekali dengan rasa sate ayam. Bahkan setahun lalu, saya juga pernah mencoba rendang jamur dan tongseng jamur rasanya tak kalah dengan rendang daging dan tongseng kambing. Benar-benar rasa yang maknyusss, dengan harga yang tidak mahal, pelayanan mewah tapi mengesankan, dan fasilitas tampat yang eksotis.

Sate Jamur
Jamur Goreng Tepung Oyster (Tiram)
Tumis Jamur Cabe Hijau
Ketika bertandang ke warung ini, kami hanya bertiga saja yaitu saya dengan suami dan anak (tapi anak tidak makan karena sedang tidur). Jadi, kami berdua memesan 2 piring nasi plus 3 menu masakan di atas (sate jamur, jamur goreng tepung dan tumis jamur lombok ijo) dengan minuman jeruk hangat untuk saya dan es teh untuk suami. Selain itu, kami juga memesan untuk dibungkus 2 porsi nasi putih, 2 porsi sate jamur dan 1 buah lumpia. Total yang harus kami bayarkan hanya Rp 69.000, relatif murah menurut saya. Harga kaki lima tapi rasa bintang lima, sangat mengesankan ^^,....

Silakan mencoba bagi Anda yang berkunjung ke Jogjakarta. Jangan melewatkan wisata kuliner ke warung makan "jeJamuran", karena recommended banget lah pokoknya.... :)

Salam Super Maknyussss 

Jogjakarta, 1 April 2011

Wednesday, March 30, 2011

Sego So'on & Sambel

Oleh : Lian Dewi Angellia

Beberapa kali saya ditanya orang di luaran Jogja mengenai nasi kucing (apalagi di luar pulau Jawa), mereka penasaran dengan bentuk dan rasa nasi kucing itu seperti apa. Yang ada di benak mereka, nasi kucing itu adalah nasi yang menjijikkan karena untuk makanan kucing tapi disantap oleh manusia. Ketika di pekanbaru, sopir mobil kami pun menanyakan hal yang sama, lalu kami jawab kalau nasi kucing itu porsinya sedikit seperti sekepal kecil tangan manusia, dan jika dilahap cuma 5-6 suapan penuh saja, tapi kenikmatannya memang sulit dibandingkan dengan makanan lain. Nasi kucing memang menjadi ikon makanan khas Jogjakarta yang murah, meriah, dan mengenyangkan (kalau makan minimal 3 bungkus).

Filosofi munculnya nasi kucing sendiri sebenarnya adalah karena dahulu di Jogjakarta banyak dijumpai masyarakat ekonomi lemah bahkan ada juga mahasiswa yang miskin, tapi dengan uang terbatas mereka ingin tetap bisa makan. Tambah lagi memang Jogjakarta pada masa itu tergolong propinsi termiskin di Indonesia dihitung dari pendapatan daerahnya. Akhirnya nasi kucing ini mencuat kiprahnya hingga detik ini walaupun kehidupan di Jogjakarta sudah tidak sesulit dulu.


Sebelum berangkat cuti liburan ke Jogja 6 bulan lalu, saya mendapat info dari teman di fesbuk ketika saya menanyakan beberapa tempat makan enak di Jogja melalui status yang saya tuliskan, salah satunya adalah Sego So'on. Lalu saya saya mencoba makanan tersebut, yaitu sejenis nasi kucing tapi dengan menu lauk so'on. Menu ini bisa didapatkan di satu warung angkring di daerah Jalan Gondomanan, tepatnya kurang lebih 200 meter ke arah selatan dari pertigaan Gondomanan. Warung ini berbentuk semacam warung angkring dengan satu gerobak dan kursi panjang di sekelilingnya dan dilengkapi dengan tenda terpal di atasnya, kemudian hanya ditutup dengan spanduk untuk memberi tanda jualan warungnya. 

Warung angkring ini baru buka pukul 17.00 wib yaitu setelah toko di belakang warung ini tutup. Banyak pelanggan setia yang selalu rela antri demi menyantap nasi soon ini. Jadi teringat ada pepatah orang jawa ketika melihat warung yang ramai seperti itu "Dodole wae nganti bokong bakule ra ketok", artinya "Jualan kok sampe gak keliatan pantat penjualnya". Tapi anehnya, walaupun pembeli sangat ramai, tapi mereka jarang menunggu hingga lama karena pelayanan yang sangat cepat dan cekatan, juga karena biasanya penjual yang melayani ada 3 orang. 

Ketika saya memotret-motret lokasi warung tersebut, tukang parkir yang menjaga motor di pinggiran jalan tersebut mengajak ngobrol saya dan sedikit mempromosikan jualan nasi so'on. Awalnya dia bertanya kepada saya : "Badhe kagem promosi nggih bu?" (Mau buat promosi ya bu). Saya jawab : "Ya nanti saya masukkan internet pak, biar bantu promosikan". Lalu kata bapak tua berbaju oranye itu bercerita bahwa nasi soon ini sering menerima banyak pesanan, 150 bungkus lah ato 300 bungkus lah atau lebih. Dia juga mengatakan bahwa nasi soon ini awet juga kalau tidak sempat dimakan hari itu juga, bisa menginap sehari tanpa dipanasin. Setiap harinya, warung ini hanya buka tak lebih dari dua jam saja, bahkan seringnya hanya buka satu jam sampai kira-kira pukul 6 sore dan dagangan sudah ludes habis tak bersisa.

Harga normal perbungkus nasi soon+sambal adalah dua ribu perak (RP 2.000). Tapi tak jarang banyak pembeli memesan perbungkusnya dengan harga tiga ribu perak (Rp 3.000) supaya nasinya dilebihin porsinya. Nasi soon tersebut dibungkus dengan cara ditempelang, yaitu ditutup tengahnya dengan daun lalu kedua sisi ujungnya dilipat lalu dikaretin.

Rasa dari nasi soon sambel ini lumayan menggoda di lidah. Perpaduan rasa pedas dari sambal dan pedas mrica dan lombok ijo dari soon serta nasi putih yang hangat membuat lidah bergoyang dengan penuh selera. Pelengkap dalam menyantap nasi soon ini ada beberapa macam, yaitu ada gorengan (tempe goreng, tempe gembus goreng, bakwan goreng), ada juga kepala ayam goreng, ceker goreng, dan sayap goreng. Harga untuk gorengan perbijinya adalah lima ratus perak (Rp 500), dan untuk kepala ayam dua ribu lima ratus perak saja (Rp 2.500).

Anyway, mungkin tidak semua orang suka dengan so'on, seperti suami saya ketika menyantap makanan ini nampaknya menunjukkan raut muka yang biasa saja. Beda halnya dengan saya, mama saya dan adik-adik saya yang suka sekali dengan makanan ini. Tapi supaya Anda tidak kecewa dan penasaran, sesekali cobalah menu ini ketika mampir di Jogja. Karena dengan membeli 1 bungkus, tidak akan membuat Anda kekenyangan dan tetap bisa berwisata kuliner di tempat jajanan lain... 

Jogjakarta, 30 Maret 2011