Slide 1

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 2

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 3

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 4

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 5

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Showing posts with label Especially for Moms. Show all posts
Showing posts with label Especially for Moms. Show all posts

Sunday, May 1, 2011

Istri Dengan (Tanpa) Penghasilan

Dulu saya tidak pernah berpikir untuk jadi totally housewife, karena melihat mama saya yang hanya lulusan SD dan tidak bekerja, saya berpikir gelar IRT hanya untuk wanita yang tidak berpendidikan saja. Oleh sebab itu, saya gantungkan cita-cita yang tinggi untuk bisa studi sampai S3 dan bisa menjadi dosen. Walaupun kenyataannya saya hanya mampu sampai S2 saja, hehehe. Hmmmm, tapi memang seiring dengan waktu, banyak hal berubah termasuk pemikiran saya, apalagi setelah saya menikah. Tentunya pemikiran yang diiringi dengan kematangan dan kedewasaan serta dukungan dari suami tercinta, semoga bukan karena keinginan sesaat saja.
Anyway, di sini saya mau share sedikit pengalaman mengenai UANG bagi wanita yang pernah merasakan bekerja (a.k.a berpenghasilan sendiri) dan tidak bekerja (a.k.a hanya menerima uang dari suami). Begini nih yang saya rasakan dan saya alami. 


Dulu saya sempat bekerja hanya 5 bulan saja, dengan penghasilan pada saat itu (tahun 2007) sebesar 2.5juta rupiah. Hmmm, angka yang sebenarnya lumayan lah untuk seorang fresh graduate macam saya ini dan kebetulan kerja saya sistemnya kontrak saja karena hanya menyelesaikan suatu proyek di satu perusahaan swasta. Pada saat itu saya sangat bahagia sekali setiap menerima uang gaji setiap bulannya, bahkan rasanya sayang banget kalau terlalu boros, jadi dalam sebulan saya bisa menabung 2 juta, karena memang penginapan dan makan 3x sehari sudah ditanggung oleh perusahaan tersebut. 

Setelah menikah, saya masih harus menempuh 1.5 tahun lagi studi S2 saya. Belum begitu terasa adanya perbedaan karena memang saya mendapatkan beasiswa full, jadi serasa masih seperti menerima gaji setiap bulannya karena masih bisa menabung juga perbulannya jauh lebih banyak dari waktu saya bekerja. Setelah selesai S2, saya jadi ibu rumah tangga 100% tanpa penghasilan apapun. Apa yang saya rasakan??? 

Hmmm, pertanyaan yang cukup membingungkan saya. Bayangkan saja, dengan uang bulanan yang bisa hampir 2-3 kali gaji saya semasa kerja, saya merasakan tidak bisa menikmati uang suami seperti dulu sewaktu saya bekerja. Saya terkesan lebih santai dan tidak sayang untuk berboros-boros, bahkan tak jarang dalam sebulan saya hanya bisa saving sedikit saja. Entahlah apa mungkin karena saya berpikir bahwa suami saya sudah menyiapkan tabungan buat saya di luar uang bulanan saya ataukah karena saya tidak merasa bekerja jadi tidak merasakan sayang dengan uang hasil kerja suami saya.

Akhirnya, saya pun memutar otak untuk bisa berusaha tapi tetap pada koridor ibu RT yang total. Gimana caranya?? Hehehe, saya belajar bikin kue secara autodidak, lalu perlahan saya beranikan diri menerima pesanan kecil-kecilan. Hasilnya memang tidak begitu banyak, tapi cukup bisa dijadikan hiburan karena hasilnya saya tabung dan *sama sekali* tidak saya gunakan untuk jajan ataupun belanja apapun, hehehe. Walau agak sedikit curang, kadang saya gunakan uang belanja dari suami untuk membeli bahan-bahan membuat kue, tapi hasil penjualannya langsung masuk tabungan saya. Alhamdulillah suami mengijinkan, karena itulah salah satu hiburan saya, yaitu mengelola hasil jerih payah saya sendiri (walaupun sebenarnya ada sumbangsih modal suami, hehehe)

Anyway, pernah juga saya berdiskusi juga dengan 3 orang wanita yang sebelumnya pernah bekerja dan memutuskan untuk jadi IRT, ternyata mereka mempunyai perasaan yang sama. Yaitu merasa nyantai (tidak berhemat) dalam membelanjakan uang dari suami. Tapi kayaknya hal ini tidak berlaku untuk ibu-ibu yang memang punya watak bersahaja dalam membelanjakan uang, baik uang sendiri ataupun uang suami. Jadi, saya tidak mengatakan dan menyimpulkan satu generalisasi perilaku dari apa yang saya dan beberapa teman saya alami. Just for sharing aja ^^,

Tuesday, April 19, 2011

Efektivitas Penerapan Stimulasi pada Balita

Oleh : Lian Dewi Angellia

Barangkali kita sering bertanya-tanya, bagaimana ya orang tua para orang hebat dalam mendidik anaknya sehingga anak-anaknya bisa mempunyai otak encer, cerdas, profesional, jujur, berIQ tinggi dan sebagainya? (misal seperti: A. Einstein [ilmuwan], Thomas Alva Edison [ilmuwan], Sehat Sutardja [pendiri Marvell Tech Group, imigran dari Indonesia yang tinggal di AS], pak SBY [Presiden RI yang cerdas dan berpendidikan tinggi], ibu Sri Mulyani [mantan MenKeu RI yang diakui dunia internasional], pak Habibie [mantan Presiden RI yang mempunyai IQ sangat tinggi], dan masih banyak lagi.

Tidak ada orang tua di dunia ini yang tidak ingin anaknya cerdas dan pintar bukan, bahkan keluarga miskin sekalipun, ketika mempunyai anak pasti mempunyai sebersit bahkan segudang harapan supaya kelak anaknya bisa menjadi orang sukses, membanggakan dan menjadi tumpuan kehidupan orang tuanya di masa yang akan datang.

Kebetulan beberapa waktu lalu, di stasiun lokal daerah saya didatangkan seorang narasumber Psikolog Anak yaitu ibu Sulfina Tanjung dengan tema pembahasan Stimulasi Dini Pada Balita. Berikut ringkasan pembahasannya.


Stimulasi dini merupakan rangsangan dini yang diberikan pada anak balita. Hal ini sebenarnya mengandung makna positif, hanya saja terkadang disalah artikan oleh orang-orang yang terlibat dalam pemberian stimulasi. Fenomena yang sekarang kerap muncul adalah adanya pergeseran pandangan dan keyakinan dari para orang tua, yaitu bahwa langsung memasukkan anak ke TK dengan tidak memasukkan anak ke playgroup dulu adalah merupakan keterlambatan pemberian stimulasi dini. Sehingga orang tua berlomba-lomba memberikan stimulasi dini pada anak hingga terkadang berlebihan. 

Kebetulan beberapa waktu lalu, di stasiun lokal daerah saya didatangkan seorang narasumber Psikolog Anak yaitu ibu Sulfina Tanjung dengan tema pembahasan Stimulasi Dini Pada Balita. Berikut ringkasan pembahasannya.


Sebenarnya pemberian stimulasi dini pada balita itu tidak salah diberikan, hanya saja yang perlu diperhatikan adalah penekanan stimulasi itu sendiri. Karena stimulasi itu sebenarnya terdiri dari stimulasi kognitif, motorik dan afeksi. Nah, fenomena yang kerap kita lihat sekarang adalah bahwa orang tua lebih menekankan aspek stimulasi kognitif pada anak tanpa diimbangi dengan aspek motorik dan afeksi. Di sinilah kesalahannya, karena memang kita fahami sistem pendidikan di negara memaksa kita dominan di awal menekankan aspek kognitifnya (misal masuk SD sudah harus bisa membaca, menulis, dan berhitung = "calistung").

Berdasarkan studi kasus yang dilakukan oleh Kathy Hirsh Pasek, Profesor Psikologi dari University of California terhadap anak yang diberikan stimulasi dini secara "berlebihan" dan yang tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang diberikan stimulasi dini secara "berlebihan" tidak memberikan kemampuan yang lebih menonjol dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan stimulasi dini. Hanya saja dia melihat perbedaan dari segi minat, yaitu anak-anak yang sejak kecil diberikan stimulasi secara berlebihan minatnya cenderung turun pada saat remaja, hal ini berdampak pada masalah mengikuti pelajaran di sekolah. Hal ini mungkin bisa dilihat adanya kejenuhan dalam menerima pelajaran karena sejak kecil di-drill dengan hal-hal yang bersifat kognitif tanpa diimbangi dengan aspek lain. 

Aspek motorik mengandung makna pergerakan. Artinya stimulasi yang diberikan pun bermacam-macam tergantung usia anak. Misalnya untuk anak usia 3 bulan, sebelum bisa tengkurap bisa kita rangsang dengan menengkurapkan anak dan memberikan mainan atau benda di depannya sehingga anak terangsang untuk meraihnya. Untuk anak yang berusia lebih besar lagi misal setahun lebih bisa kita stimulasi dengan mengajaknya berlari-lari, naik turun tangga, melompat satu kaki, atau bersepedaan roda 3/mobil-mobilan yang bergerak dengan dipancal kaki. Atau untuk anak yang lebih besar lagi bisa kita stimulasi motorik halusnya dengan mewarnai, menggunting, menggambar bentuk atau meronce.

Untuk aspek afeksi adalah lebih pada emosi. Hal yang mudah dan paling bisa kita lakukan adalah dengan sentuhan, belaian, pelukan dan ciuman. Lebih jauh dari itu anak juga bisa kita bacakan dongeng dan menyimpukan bersama-sama moral dan hal-hal positif yang terkandung dalam cerita. Selain itu juga aspek afeksi lebih pada bagaimana mengajarkan anak untuk lebih bisa mengontrol emosi, misalnya berbagi mainan/makanan dengan teman (memberikan kefahaman pada anak bahwa manusia adalah makhluk sosial), membantu anak untuk selalu baik dengan orang-orang di sekitar (tidak memukul, tidak berteriak, dan lain sebagainya).

Membahas mengenai Golden Age atau periode emas pada anak, sebenarnya para pakar sendiri berbeda pendapat mengenai hal ini. Ada yang berpendapat periode emas adalah masa 5 tahun pertama kehidupan, ada yang berpendapat 3 tahun pertama dan ada juga yang berpendapat 6 tahun pertama. Pada masa tersebut, otak bayi seperti spons yang memang mudah menyerap banyak pengetahuan sehingga orang trua terdorong untuk menstimulasi anaknya sebanyak-banyaknya. Yang mendasari pendapat periode emas itu sebenarnya adalah Brain Growth Spurt, yaitu di mana pertumbuhan jumlah sel otak dan ukuran sel otak pada saat itu meningkat dengan sangat pesat, sehingga menurut beberapa pakar pada masa itu memang bagus sekali untuk menstimulasi anak. Hanya saja pendapat ini ditentang oleh profesor ahli fisiologi dari Universitas Oxford, yaitu Prof. Collin Blackmore. Menurutnya, anak yang terlambat belajar formal di usia 7 tahun akan cepat menyusul anak yang pada usia 4 tahun belajar formal dan distimulasi sejak dini, dan performa mereka akan sama saja di usia 9 tahun.

Intinya di sini adalah tidak ada kata terlambat dalam menstimulasi anak. Orang tua tidak perlu latah dan cemas bila anaknya tidak masuk playgroup. Asalkan orang tua di rumah bisa menstimulasi secara berimbang dan menyesuaikan dengan usia + kemampuan anak, insyaAlloh anak kita tidak akan tertinggal dengan anak-anak lain. Tidak ada periode kritis untuk menstimulasi kognitif anak. Yang ada periode kritis, artinya anak akan kehilangan kemampuan ketika tidak diajarkan pada masa tertentu adalah ketika anak kehilangan kemampuan mendasar (motorik dasar), seperti melihat, mendengar, tengkurap, berjalan, berbicara, dan lain-lain. Ini berarti stimulasi bukannya tidak diperlukan oleh anak, tetapi kita sebagai orang tua harus memahami kebutuhan anak. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam menstimulasi anak adalah mencari cara/metode maupun media stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak dan tipe anak. Artinya, anak-anak yang visualnya lebih dominan akan lebih sesuai distimulasi dengan buku-buku bergambar yang menarik dan berwarna warni. Akan berbeda dengan anak yang dominan audionya atau pendengarannya, tipe seperti ini akan lebih sesuai untuk dibacakan cerita atau berdiskusi. Jadi, peran orang tualah untuk telaten memahami kebutuhan dan minat anak. Hal lain dalam menstimulasi anak adalah menjaga emosinya, artinya ketika masa belajar dan bermain dengan anak, pertahankan suasana yang nyaman sehingga anak tidak merasa terpaksa dan dapat menikmatinya.

Satu hal penting lagi yang cukup berkesan menurut saya adalah mengenai satu pertanyaan bahwa apakah anak yang di masa kecilnya menunjukkan kepintaran (misal IQ tinggi), akan menjamin kesuksesan di masa mendatang? Nah, dalam psikologi dikenal istilah "Resiliensi" yaitu seberapa mampu seorang anak itu bertahan dalam setiap permasalahan. Ibarat bola bekel, setinggi/semampu apakah dia dapat memantul/ bangkit setelah jatuh (berada di bawah  dalam keadaan susah, sedih, bermasalah).  Hal ini bisa menjawab satu pertanyaan di atas, jika memang seorang anak yang memang mempunyai kemampuan IQ yang tinggi dan ditunjang dengan ketahanan diri (resiliensi) yang mantap dan kuat, bisa jadi hal itu mendukung kesuksesan di masa mendatang. Karena sebenarnya, kehidupan seorang anak itu akan lebih kompleks dan tak se-sesimple dunia masa kecil saja, tapi dunia yang sebenarnya adalah nanti ketika anak berada di masa dewasanya. Itulah peran kita sebagai orang tua untuk mengantarkan dan membekali anak-anak kita tidak hanya dari segi konitif, tapi juga religi, aspek nonkognitif, dan budi pekertinya. Sukses di masa kecil belum tentu juga membawa kesuksesan di masa tuanya. Mumpung kita masih bisa berusaha, semoga kelak anak cucu kita membawa perubahan yang baik untuk masa depan dan kebaikan untuk orang tua, dan orang-orang di sekitarnya.

~salam hangat dari Ummu Ibrahim~
melihat, mendengar dan merasakan sesuatu untuk ditulis sembari belajar dan memotivasi diri sendiri

Wednesday, March 23, 2011

Si Kecilku di Usia 2 Tahun

Alhamdulillah hari ini 22 Maret 2011, Ibrahim anakku genap 2 tahun menghirup udara di dunia yang fana ini. Tepat dua kali dia mengelilingi matahari bersama Abi dan Ummi sebagai hadiah, anugrah dan karunia terindah setelah pernikahan Abi dan Ummi. Tak terasa banyak hal yang sudah dilaluinya dari keceriaan hingga kesedihan.

Di usianya yang kedua ini, tak ada satu perayaan apapun walaupun hanya kecil. Memang adalah menjadi prinsip kami orang tuanya untuk tidak menjadikan hari kelahiran sebagai suatu momen tersendiri untuk dirayakan walaupun sekedar hanya mengucapkan “Selamat hari Ulang Tahun” ataupun “Met Milad” sekalipun.  Semua itu berjalan seperti biasanya, doa-doa terpanjatpun secara khusus pun selalu kami panjatkan setiap harinya.


Pada saat usia Ibrahim 21 bulan yang lalu, dengan sangat terpaksa harus saya sapih karena saya positif hamil lagi. Sebelum saya dinyatakan positif hamil pun (ketika Ibrahim 20 bulan), sebenarnya ibu mertua sudah menyarankan untuk menyapih Ibrahim untuk persiapan kehamilan berikutnya, selain itu supaya meningkatkan nafsu makan Ibrahim sehingga beratnya bisa naik. Akhirnya, dengan bercampur kesedihan saya sapih Ibrahim dibantu abinya yang memberikan support kepada saya, yang mana setiap malamnya turut begadang menidurkan Ibrahim. Masa klimaks penyapihan tersebut berlangsung 3 hari 3 malam saja, dan selebihnya Ibrahim sudah melewatinya tanpa merengek meminta ASI. Akan tetapi, kebiasaan tidur di awal2 penyapihan barangkali menjadi masa-masa sulit baginya, karena kami ummi dan abinya harus bergantian menggendongnya hingga dia tertidur. Kebiasaan ini berlangsung skitar 1 bulan pasca penyapihan.

Di usianya sekarang ini, alhamdulillah Ibrahim mempunyai kemampuan rata-rata standar seperti anak-anak lainnya. Walaupun dalam hal berbicara masil belum terlalu jelas, kadang hanya saya sebagai ummi yang bisa paham maksudnya sedangkan abinya terkadang minta saya untuk mengalih bahasakan apa yang dikatakan Ibrahim. Teman sepantarannya ada yang bicaranya memang sudah sangat lancar, tapi juga ada yang masih belajar mengumpulkan kosakata juga.

Mainan Lego bikin menara

Dalam kemandirian, Ibrahim alhamdulillah sudah bisa makan sendiri sejak usia 15 bulan, usia ini mungkin termasuk agak terlambat dibandingkan teman-temannya yang dalam usia setahun sudah bisa makan sendiri. Sejak usia 13 bulan, Ibrahim sudah saya latih untuk lepas disposable diapers, walaupun untuk malam hari masih saya pakaikan. Hingga di usianya ke 18 bulan, totally Ibrahim sudah tidak memakai disposable diapers lagi. Di usianya yang ke 21 bulan, saya ajak dia untuk toilet training sehingga sehari-harinya pun sudah tidak saya pakaikan cloth diapers lagi melainkan celana biasa. Alhamdulillah, di usia 2 tahun sekarang Ibrahim sudah jarang ngompol lagi, karena selalu rutin saya bawa ke toilet. Kecuali dalam hal pup, dia masih belum sepenuhnya mau di toilet, seringkali masih pup di celana.


Bergaya dengan Kacamata

Dalam bersosialisasi, saya amati perilakunya dengan beberapa kawannya terkadang sudah bisa berbaur, kadang juga masih bermain sendiri dan cenderung tidak peduli dengan temannya. Ibrahim lebih senang untuk bermain dengan anak usia lebih tua. Dalam hal berbagi, Ibrahim belum sepenuhnya bisa melakukannya karena sering sekali saya amati dia merebut mainan temannya atau jika mainannya yang tergeletak dimainkan oleh temannya, maka dia akan mengambil/merebutnya. Saya berharap perlahan, dia bisa belajar untuk berbagi, apalagi sebentar lagi akan mempunyai adik. Dalam berterima kasih, alhamdulillah dia sudah mengetahui konsep tersebut sehingga ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain ataupun telah dibantu mengambilkan sesuatu, dia akan mengatakan "kaciiih".


Dalam hal mengenal angka 1-10 alhamdulillah itu sudah dia kuasai. Beberapa warna pun sudah dia kenal seperti oranye, kuning, biru, dan hijau. Huruf yang dia ketahui masih beberapa saja yaitu A, B, C, O, I, dan W. Dan bentuk-bentuk geometri dasar yang sering dia sebutkan adalah bintang, bulat, telur dan layang-layang. 


Naik ke Rak Buku

Anyway, saya menyadari kemampuan masing-masing anak tidak dapat disamakan. Awalnya dulu sering hati saya sebagai ummi berkecil hati melihat anak2 lain mungkin bisa lebih cepat melakukan sesuatu dibandingkan Ibrahim. Tapi. sekarang saya tidak akan memasang target terlalu tinggi terhadap Ibrahim dalam masa balitanya. Yang penting, saya sebagai umminya bisa mendampinginya selalu untuk menstimulasi perkembangannya, tidak lelah mengajarinya dan selalu sabar mendidiknya. 

Saya teringat kata-kata teman saya seorng psikolog anak, dia mengutip kata seorang Profesor yang menyatakan bahwa anak di usia 7 tahun, anak akan mampu mengejar ketertinggalannya dibanding dengan anak yang di usia 4 tahun sudah lebih dulu distimulasi. Sehingga di usia 9 tahun nantinya, kemampuan mereka bisa akan sejajar. Terlepas dari itu, saya bukan berarti akan bersantai dalam mendidik anak. Tapi bagaimana tetap menstimulasi anak untuk berkembang dan berpikir, walaupun sebenarnya di usia tertentu nantinya anak akan mempunyai kemampuan yang sama dalam hal mengenal huruf, angka, bentuk dan warna. Yang membedakan mereka nantinya adalah ketekunan dalam belajar dan bakat, sehingga itulah yang nantinya membedakan mereka dalam berprestasi.

Bontang, 22 Maret 2011

Wednesday, February 16, 2011

Sebuah Renungan Untuk Orangtua Agar Tidak Berlebihan Mengutarakan Rasa Bangga Terhadap Anak Pada Orang Lain

Oleh : Lian Dewi Angellia

Adalah wajar kita sebagai orang tua bangga sekali dengan apa yg telah dicapai anak. Suatu perasaan alamiah, apalagi kita yang sehari2 menghadapi anak dari kecil hingga besar kelak. Kenapa kita bahagia dan bangga ketika anak menunjukkan ke^bisa^annya yang baru. Menurut saya karena tadinya anak tidak bisa apa2 kemudian kita sebagai orang tua merasa mengajari ataupun selalu mendampinginya, hingga si anak bisa, hal itu yang membuat kebahagiaan tak terkira bangi orang tua.


Saya sendiri, ketika mempunyai anak pertama yang alhamdulillah lahir normal, dalam setiap pertumbuhannya selalu ada saja sesuatu yang baru dibuatnya. Misalkan ketika bisa mulai memanggil Abi utk pertama kalinya di usia 11 bulan. Rasa bahagia itu menyeruak mendengarkan celotehan demi celotehan di usia selanjutnya walaupun kosakatanya sedikit sekali. Ketika si kecil sudah mulai menyebutkan kata demi kata di usianya skitar 20 bulanan yang terbilang telat dibandingkan teman2nya, bisa makan sendiri, sudah lepas dr popok, belajar angka dan huruf, dan setiap perkembangannya yang walaupun kecil tapi terasa sangat bermakna dan membahagiakan. Tak pelak, kadang di depan abinya yang sehari-hari kerja, saya ceritakan dengan bangga ttg kepintaran si kecil. Dan ketika orang tua saya atau mertua saya menelpon, dengan bangganya saya ceritakan setiap tahap perkembangan si kecil.


Hmmm, tapi semua yang kuceritakan adalah dunia kecilku dengan suami dan anakku. Aku masih mempunyai pandangan yang seharusnya lebih luas keluar, untuk tidak terlalu berlebihan membanggakan anakku. Terkadang suamiku berkata, "wah anak kita pintar ya dek sudah mulai bisa ini itu, tapi anak2 seusianya memang masanya seperti itu kali, malah ada yang bs ngomong lebih cepat lho kayak anaknya si A, si B, si C". Yaaa, aku memang hanya melihat sisi ke^bisa^an anakku saja. Aku tahu, suamiku berkata demikian supaya aku tidak terlalu *berlebihan* membanggakan anak dan supaya aku bersikap biasa ketika bercerita kepada orang lain mengenai pertumbuhan anakku, namun dengan tetap memberikan penghargaan terhadap anak utk sbg motivasi.

Bagaimana dengan anak2 temanku yang lainnya? Memang benar kata suamiku, ketika si kecilku sekarang di usianya 23 bulan baru belajar awal utk menyusun kalimat karena bicara kata per katanya masih belum jelas, anak2 lain seusianya bahkan yang lebih muda pun sudah lancar berbicara dan bercerita. Ketika satu waktu aku bertanya kepada temanku kapan anaknya sudah bs menyebut angka urut, teman berkata di usia 8 bulan anaknya sudah bs nyebut angka 1-10 (hanya bermaksud menjawab pertanyaan saya, tdk bermaksud lebih lho). Dan ketika tanya mama saya, kapan saya dan saudara2 sekandung saya mulai bisa berbicara, mama saya menjawab "Di usia setahun anak2 mama udah pada bisa bicara kok..". Dan ketika saya tanya mertua kapan abinya si kecil mulai bisa bicara, mertua menjawab "Agak telat nduk, di usia 20 bulan lebih, malah yang paling bontot anak ibu, usia 2 th lebih blm bs ngomong sampe ibu takut klo2 bisu. Alhamdulillah sekarang gedhenya udah kuliah malah jd cerewet gitu hehehehe". Itulah, warna warni kekhasan anak. Tidak perlu kita banding2kan cepat atau lambat kemampuan anak dalam melakukan sesuatu. Semoga kelak, anak2 kita nantinya bisa berkompeten mjd insan yang bermanfaat.

Bangga terhadap anak tentu saja sah2 saja, dan menceritakan prestasi anak kepada orang lain juga wajar saja kok selama hal tersebut tidak berlebihan dan tidak bermaksud membanding2kan dengan anak lain. Justru janggal juga kalau dalam bergaul dengan tetangga atau teman, kita sama sekali tidak pernah menceritakan tentang anak, hehehe... (Karena saya paling seneng lho denger cerita ibu2 ttg anak2 mereka beserta warna warninya). Wajar saja menurut seorang ibu bercerita misal demikian "alhamdulillah si kecil dah mulai berdiri, semoga bisa lekas jalan ya", tiap ibu juga pasti girang sekali bukan dg perkembangan buah hatinya yg demikian. Tapi pasti beda rasanya dengan pernyataan seperti ini : "alhamdulillah si kecil dah bs berdiri, sedangkan teman2nya di usia yang sama masih pada merangkak malah ada yang blm bisa merangkak alias masih ngesot lho, hebat ya anak saya, smoga cepat jalan ya".... (contoh fiksi bgt ^^,).. Grrrrrrhhh, yang denger pasti langsung pada ilfil wkwkwk.....

Tidak ada orang tua yang tak ingin anaknya berprestasi di sekolah dan di manapun berada. Kekaguman saya kepada pernyataan seorang kawan : "siapa sih yang ga pengen anak kita pinter dan juara satu, tapi kalaupun anakku memang blm mampu juara satu ya kenapa harus dipaksakan, aku hanya berharap di kehidupannya kelak, anak2ku bs survive berjuang utk hidup di manapun mereka berada dan mempunyai perilaku yang baik. bermanfaat bagi orang banyak dan tidak merugikan orang". Senada dengan suamiku yang pernah mengatakan, "Janganlah menuntut anak2 kita nanti utk selalu menjadi yang nomor satu, tapi didiklah mereka menjadi pribadi yang konsisten dan bertanggung jawab, contohnya konsisten rajin belajar utk mencari ilmu, menekankan lebih pada proses bukan pada hasil".

Pastinya masing2 orang tua mempunyai prinsip berbeda2 dalam pola asuh dan mendidik anak. Itulah warna warni kehidupan. Semoga Alloh senantiasa memudahkan dan melapangkan kita dalam mendidik anak selama kita berusaha dengan baik dan benar, sehingga nantinya ketika anak kita tumbuh jadi manusia dewasa, kita sebagai orang tua dikaruniai kebaikan-kebaikannya (keshalihan, kemanfaatan ilmu, kemuliaan akhlak, dan ketaatannya kepada Alloh, Rasul, dan orang tuanya). Amiin.

(Mohon maaf, di tulisan ini saya tidak bermaksud menggurui atau hal lain lho ya, hanya ingin berbagi karena saya pribadi kadang *tanpa sadar* melakukan kesalahan2 dalam mengekspresikan rasa bangga terhadap anak, mungkin ada hal2 yang kurang dari saya, bisa ditambahi oleh yang berpengalaman) -maklum sy msh muda seperti daun-

Bontang,16 Februari 2011
Umminya Ibrahim
*yang masih harus bijak dan sabar dalam mendidik thole dan adik2nya kelak

***********************

Berikut ini satu artikel yang saya baca dari tulisan yang dikutip oleh drg. Olla Budiarko (Rumahgigiwika Balikpapan)
Dikutip beliau dari buku: Dengan Pujian, Bukan Kemarahan (rahasia pendidikan di negeri Sakura) karya Nesia Andriana

***********************

Coba kita simak beberapa contoh ungkapan yang kerap kali terdengar di kehidupan kita sehari-hari:
* om dulu bisa membaca koran dikelas 4 SD
* anaknya teman itu masih kelas 2 SD sudah fasih membaca dan menulis dalam bahasa inggris
* anakku sudah fasih memainkan piano padahal masih kelas 2SD
* anak saya pinter lho matematikanya
Dsbnya

Ungkapan-ungkapan itu sering saya dengar dan membuat saya sering merasa heran,mengapa orang-orang banyak yang saling adu kemampuan anak-anak kecil mereka?? saya jadi bertanya-tanya, apakah betul kemampuan masa kecil mereka akan menentukan masa depan yang bersangkutan?

Dari apa yang saya lihat, tidak demikian. Cukup banyak saudara, famili, atau sekedar kenalan semasa kecilnya dulu menjadi kebanggaan orangtua: juara satu, cepat membaca, cepat jalan, berbadan montok dan (sepertinya) sehat, bahkan cepat tumbuh gigi, ternyata setelah dewasa, "tertatih-tatih" menjalani hidup. Persoalan yang dihadapi ketika manusia telah dewasa ternyata begitu kompleks dan sulit diperkirakan ketika mereka masih kecil. Persoalan yang umumnya tidak ada lagi hubungannya dengan prestasi masa kecil seperti cepat berjalan, berbadan montok, kuat menghafal, jago matematika, dan sederet prestasi yang banyak orangtua suka pertandingkan itu. Saya jadi berpikir bahwa kebanggaan atas prestasi masa kecil anak, bisa berakibat negatif melemahkan posisi sebagai pendidik bagi para orangtua. Di atas langit masih ada langit, begitu bunyi pepatah, Bila orangtua berbangga-bangga dengan prestasi anak, maka ketika mereka bertemu dengan anak yang lebih hebat, mungkin cara pandang terhadap anak sendiri jadi berubah. Dari bangga atau kagum jadi kecewa dan merendahkan kemampuan anak. Saya pikir ini akan mempengaruhi kebijaksanaan orangtua karena sudah tidak siap lagi menerima kondisi anak apa adanya. Melihat anak dengan tolak ukur orang lain.

Bagaimana dengan anak itu sendiri? yang anak butuhkan adalah penerimaan utuh/total dari orangtuanya sendiri, karena setiap anak adalah individu yang berdiri sendiri, punya kekhasan sendiri. Semoga kita mampu lebih bijak menyikapi hal-hal demikian.

Saturday, June 26, 2010

Metode Efisien atau Hanya Sekedar Memanfaatkan Kepanikan Orang Tua Saja????

Oleh : Lian Dewi Angellia

Ketika sedang bertandang ke sebuah warung makan kira-kira sebulan yang lalu, sedikit tergelitik aku dengan penjelasan seorang wanita yang berjaga di sebuah stan bimbingan belajar mengenai pelatihan aktivasi otak tengah. Menarik memang mendengarkan penjelasannya yang cukup membuatku terpesona dengan apa yang dia sampaikan. Penjelasan berawal dari asal muasal metode mid-brain activation training yang kurang lebih 40 tahun lalu ditemukan di Jepang, dan mulai populer di Malaysia sekitar 5 tahun lalu hingga akhirnya mulai dikenal dan di-franchise di Indonesia kurang lebih 8 bulan lalu. 

Bagaimana membuat anak usia 5 hingga 12 tahun bisa menjadi jenius secara permanen dalam waktu pelatihan 12 jam??? JENIUS??? selain itu juga meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kreativitas, lebih cerdas, dan lain-lain???



Boleh percaya boleh tidak, itu kata wanita yang menawarkan jasa pelatihan tersebut. Antara percaya dan tidak, di belakang meja wanita itu terpampang gambar-gambar jerapah yang katanya diwarnai oleh anak2 yang mengikuti pelatihan tersebut. Ketika dijelaskan sungguh membuatku terpana karena gambar-gambar tersebut diwarnai oleh anak-anak dengan mata tertutup. “Haah, bagaimana mungkin???” pikirku. Yaa itulah kenyataannya katanya. Lebih jauh lagi dia menjelaskan bahwa kemampuan dasar yang dapat dilakukan setelah otak tengah anak diaktivasi adalah ‘melihat’ kartu dengan mata ditutup (blind fold). Kemampuan lain yang dapat dilakukan oleh anak-anak yang telah di aktivasi otak tengahnya adalah berjalan dengan mata ditutup, tanpa menabrak. Wanita itu pun menambahkan bahwa dalam pelatihan ini tidak ada unsur magis dan segala macam.

Setelah cukup terjawabkan rasa ingin tahuku, aku berpamitan kepada wanita itu. Di dalam mobil, aku dan suamiku pun bercakap-cakap. Kuceritakan semua tentang penjelasan wanita itu yang sejujurnya membuatku tertarik untuk bisa mengikutkan anakku kelak ketika usianya cukup. Namun, apa jawaban suami sungguh membuatku berpikir ulang.

“Dek, aku kok ga percaya yang hal-hal yang kayak gituan”, kata suamiku datar, lalu dia menambahkan.

“Semua orang pintar yang kukenal dan kutahu itu hampir semuanya adalah orang yang rajin dan mau bekerja keras, dan bukan secara instan langsung pintar dan jenius kayak gitu. Kalaupun metode itu benar adanya bisa bikin orang jenius, aku tetep ga setuju karena kita berarti tidak mengajarkan suatu proses terhadap anak untuk berusaha dan berjuang. Toh kalau menurutku, jenius itu anugerah dari Alloh. Jujur aja deh Dek, aku tidak menuntut anak2 kita besok harus jenius, tapi aku lebih mengutamakan bagaimana mengajarkan anak untuk konsisten berusaha daripada bisa langsung jenius tapi tidak konsisten selanjutnya”, jelas suamiku menyampaikan pendapatnya.

Aku pun terdiam, berpikir bahwa ada benarnya juga kata-kata suamiku itu. Dalam lubuk hatiku paling dalam, aku bangga padanya...

-------------------------

Beberapa waktu lalu, aku pun bertemu dengan kawan dan berdiskusi mengenai masalah ini. Kawanku itu menyatakan "pendapat"nya bahwa metode pelatihan semacam itu hanyalah memanfaatkan kepanikan orang tua yang menginginkan anaknya bisa jenius dalam waktu singkat. Hummm *mikir*, ada benarnya juga sih penjelasannya, tapi barangkali tidak sepenuhnya benar juga… Busyeet bingung khan??

-------------------------

Aku pun berpikir lagi, orang tua mana sih yang ga pengen anaknya bisa pintar dan jenius???? Kalau ditanya pasti semua orang pengen anaknya bisa pintar dan jenius. Nah, tapi tiap orang tua mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mendidik anaknya. 

Jauh dan dalam aku berpikir, aku dan suamiku masih muda, masih banyak yang harus kami pelajari terutama dalam mendidik anak. Menurutku, tidak ada salah juga orang tua memasukkan anaknya ke bimbingan mana saja yang mereka nilai bagus untuk perkembangan anaknya, tinggal orientasi apakah yang hendak dicapai dan diharapkan. Ada orang tua yang memasukkan anaknya ke les musik, les sport, les mata pelajaran dan segala macam, karena orientasi dari masing-masing orang tua tentulah berbeda-beda. Hanya saja, jangan lupa bekali anak-anak kita dengan aqidah yang baik dan benar.

Hingga sekarang pun aku masih berpikir…….. Menjadi orang tua tidaklah mudah. Bagaimana mendidik anak supaya tangguh, konsisten, berpikiran maju, pantang menyerah, berdisiplin tinggi dan tentunya yang utama bisa menjadi hamba-Nya yang shalih. 

Bagaimana membekali anak untuk bisa bermanfaat adalah sesuatu tantangan yang tak mudah, tapi jangan dijadikan beban yang susah……. Semoga Alloh melapangkan jalan kita dalam mendidik anak dan membesarkannya.

Bontang, 26 Juni 2010