Slide 1

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 2

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 3

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 4

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 5

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Showing posts with label My Experiences. Show all posts
Showing posts with label My Experiences. Show all posts

Thursday, July 8, 2010

Portuguese Grill-nya MidValley

Huhuhuhu tiba2 aku ngebayangin makanan favoritku pas dulu aku masih kuliah, yaitu menu ikan pari bakar dengan bumbu seperti rendang plus ada sayur ijo2 dikit tapi aku ga tau namanya karena cukup asing di Indonesia.
Awalnya aku mengenal makanan ini karena diiming-imingi oleh Catherine teman kuliahku. Sebelumnya dia selalu bercerita kepadaku tentang cerita2 menggiurkan seputar ikan pari yang kerap dibelinya di Midvalley, salah satu megamall ternama di tengah kota KL. Karena tergiur, satu hari aku pun titip utk dibelikan satu bungkus utk dibawakan ke apartemenku. Ketika kuicip ternyata rasanya tidak terlalu special, hikss tidak sesuai harapanku.

Lain waktu, saat weekend aku jalan2 dengan Catherine, dia mengajakku makan ikan pari di Portuguese Grill. Dengan berat hati kuturuti saja maunya walaupun dari pengalaman sebelumnya nampaknya aku kurang suka dengan menunya.
Kami memesan menu yang sama yaitu ikan pari. Ketika orderan kami sudah datang, aku pun mulai menyantapnya, dan “Hmmmmmm…..” pada suapan pertama ternyata rasanya benar2 sangat nikmat, kekentalan bumbunya benar-benar terasa gradasi kenikmatannya dari rasa biasa menjadi rasa yang luar biasa ketika ditelan. Tekstur daging ikannya yang empuk dan menggemaskan meleleh bersama air liurku di dalam mulut membuat sensasi rasanya semakin menggila. Suapan demi suapan tak terasa hingga suapan terakhir masih membuat perut serasa belum kenyang… Benar-benar LUAR BIASA!!!!!
Jadilah tempat makan itu adalah tujuan utama setiap minggunya tatkala kebosanan akan dunia perkuliahan sudah datang. Menu yang tak bosan-bosan kami pesan adalah ‘ikan pari’. Setiap ada even ulang tahun ataukah syukuran apapun, kami selalu merayakannya di Portuguese Grill. Semua kawan dekat berkumpul jadi satu, mulai dari kawan dari Indonesia, Thailand, Philipina, Kamboja, Vietnam, Laos bahkan Malaysia sekalipun.
Satu hal yang masih kuingat jelas mengenai pelayanan di Portuguese Grill adalah ada seorang wanita muda yang selalu setia menerima orderan pelanggan dengan logat China-Malaysia
“Ode Ode Moy…. Ode Bos..” (Maksudnya, Ode = Order)
“Pari, Sotong, Bawal, Pakai pete Moy….”
Dan ketika orderan sudah jadi, maka penjaga tempat makan itu akan membunyikan bel “cring… cring….” (dan menyebutkan orderan apa yang sudah jadi misal sotong kah, bawal kah pari kah, atau lain2)
Usut punya usut ternyata kakaknya yang jaga tempat makan itu adalah orang Indonesia alias TKW hahaha, TERNYATA!!!! Padahal logatnya dah mahir bgt ala China-Malaysia xixixi, ga nyangka aja.
Gambar diambil dari www.cintarasa.com
Saat2 menyenangkan makan di Portuguese Grill sangat kurindukan, hiks….
*OBSESI* – aku bener2 pengen makan ikan pari atau sotong deh ntar klo jadi datang convo… ooooh!!
Bontang, 08 Juli 2010

Saturday, May 22, 2010

Lelaki Penjual Kerupuk

Laki-laki tua itu mempunyai mimik wajah yang kelihatan mengisyarakan keramahan, dengan goresan gestur wajah dekat pipi dan bibirnya yang nampak dia itu selalu tersenyum. Penampilan sederhana, selalu mengenakan topi, berbadan tak terlalu besar dan gigi yang sudah tidak genap lagi dengan kerutan-kerutan di wajah yang menandakan dia sudah banyak memakan garam kehidupan. Usianya rasanya sudah menginjak kepala 6, atau bahkan mendekati kepala tujuh. Dia adalah penjual krupuk di pasar Rawa Indah yang selalu rajin kukunjungi setiap hari Sabtu di saat aku belanja mingguan.



Kegemaran kami di rumah, suamiku, aku dan bahkan anakku yang masih balita adalah makan krupuk. Setiap makan tak lepas dengan pelengkap krupuk, itulah orang Jawa konon seperti itu kebiasaannya. Dulu aku sering sekali membeli krupuk di warung-warung ecer, harganya pun tentunya berbeda bila kita langsung membelinya di pasar. Sejak tahu bahwa harga di pasar dengan membelinya langsung satu bangkot (isi 10 plastik) ternyata jauh lebih murah, akhirnya aku memutuskan untuk selalu membeli krupuk di pasar. Kubeli krupuk di tempat salah seorang bapak tua dengan harga yang relatif murah. Setelah beberapa kali aku membeli krupuk di situ, secara kebetulan aku dibawakan krupuk mentah oleh mertuaku banyak sekali, sehingga untuk waktu yang lama aku tak pernah lagi membeli krupuk si sana.

Kira-kira sebulan yang lalu, cadangan krupuk mentah dari mertua habis, mau tidak mau aku berlangganan lagi kepada bapak tua itu. Ketika melihat kemunculanku lagi, seolah dia gembira sekali. Dia pun menyapaku dengan panggilan “Bu..”. 

Kusambut dengan senyuman dan mengambil krupuk kegemaranku lalu kuulurkan uang sepuluh ribuan dan berkata “tesih wolung ewu nggih pak?” (Masih delapan ribu khan pak?), 

lalu dia menjawab “Inggih bu..”. 

Dengan sapaan ramah dia pun menanyakan tempat tinggalku, lalu kubilang saja di dalam kompleks Badak. Lalu dia menatapku dalam, seolah ada satu kerinduan yang terpendam. Membuatku menjadi salah tingkah ketika dia menatapku. Lalu dia pun membuka pembicaraan dengan satu cerita singkat.
“Sampeyan niku mirip mantu kula bu, tapi sak niki dibeto anak kula ten Qatar” (Anda itu mirip dengan menantu saya Bu, tapi sekarang dibawa anakku ke Qatar).

Agak sedikit kaget bercampur haru juga karena tidak menyangka anak seorang penjual krupuk bisa sampai ke Qatar. Kupikir anaknya jadi TKI di sana, lalu aku lebih terperanjat lagi mendengar kelanjutan ceritanya, dengan masih menatapku dalam dengan penuh kerendahan hati tanpa berniat menunjukkan kesombongan.

“Anak kula niku riyen nyambut damel ten PKT, trus daptar kerjo ten Qatar. Lha Bu, saking tigangatus tiyang, namung pitu ingkang ditampi. Anak kula niku mlebet bu, tes-e kemawon ten Jakarta. Sak niki bayare pun tigangpuluh yuta, riyen namung kawan yuta.” (Anak saya dulu kerja di PKT, lalu mendaftar kerja di Qatar. Lha Bu, dari 300 orang, Cuma 7 orang yang diterima. Anak saya termasuk di dalamnya, tesnya saja harus ke Jakarta. Sekarang bayarannya udah 30 juta, padahal dulu Cuma 4 juta.). 

Subhanalloh, demikian bangganya bapak tua itu, dan aku yakin setiap orang tua pasti bangga melihat anaknya berhasil. Namun sepertinya bapak itu merasa lebih bangga lagi karena dia yang hanya menjual krupuk yang notabene “barangkali” hidup dengan keadaan yang serba pas-pasan tapi bisa melihat anaknya berhasil sampai melanglang buana ke negeri orang. 

Setelah itu, dia berikan kembalian dua ribu rupiah kepadaku. Lalu mengulangi lagi ucapannya seperti di awal “Sampeyan niku saestu mirip kaliyan mantu kula”. (Anda itu bener-bener mirip dengan menantu saya). Seorang penjual kerupuk yang sepetinya sayang sekali dengan menantunya yang nun jauh di sana tapi tetap memikirkannya. 

Seminggu setelah itu, aku pun menyambangi bapak tua itu untuk membeli kerupuk. Ketika menyodorkan uang dan dia menerimanya, lagi-lagi dia menatapku dan tersenyum bahagia bercampur rindu. Lalu berkata lagi “Perawakan, pakaian lan wajahipun sampeyan memper mantu kula, saestu..” (Perawakan, cara berpakaian dan wajah Anda bener2 mirip mantu saya). Seolah dia itu benar2 ingin mengungkapkan kerinduannya yang berbuncah kepadaku. Aku pun hanya tersenyum terharu. 

Kejadian ini pun berulang di seminggu berikutnya. Hingga pada minggu ini, ketika aku berbelanja ke pasar. Kuingat aku masih mempunyai cadangan kerupuk minggu lalu yang belum habis. Tapi aku paksakan saja untuk membeli kerupuk. Baru melihatku dari kejauhan bapak tua itu sudah tersenyum lebar kepadaku. Tiba-tiba dia berkata “Mangke, menawi mantu kula dateng mbriki, cobi kula jejerke sampeyan kalih mantu kulo nggih?” (Nanti kalau menantu saya datang ke sini, coba saya sandingkan Anda dengan menantu saya ya?). Aku pun mengiyakan utk melegakannya.

Beruntung sekali menantunya itu mendapatkan bapak mertua yang demikian menyayangi dan merindukannya hingga dia ceritakan ke orang lain setiap waktu. Alhamdulillah, aku pun mempunyai mertua yang demikian memperhatikanku, hingga tiap hari minimal sekali aku pasti ditelepon mereka. Padahal semestinya aku lah yang muda yang seharusnya menelepon mereka dahulu. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin :)

Bontang, 22 Mei 2010

Thursday, May 13, 2010

Pussing Selalu Ada di Hati

Memory Di Penghujung tahun 2006


Oleh : Lian Dewi Angellia

Malam sebelum kepulanganku dari Surabaya untuk urusan tes pekerjaan, mama nelpon aku. Katanya sih mau ngabisin bonus pulsa 10ribu freetalk dari MENT*RI, dan mungkin sekalian karena dah kangen sama anaknya yang cantik ini karena sudah smingguan hengkang dari rumah untuk mencari kerja….

Mama crita katanya beberapa hari yang lalu, ada tamu tak diundang masuk ke rumahku. Tamu itu manis dan lucu sekali, tapi kasian kecantikannya tertutupi oleh badannya yang kotor, lusuh dang kurus. Taukah kalian siapa??? Dia adalah binatang kesayangan rasulullah bernama kucing… 

Serta merta mamaku yang berjiwa pemberani, pantang menyerah dan ga suka utang (halaaah ga nyambung banget…) langsung mempersilakan tamu imut itu untuk dijamu ala kadarnya dimandiin dan dibelai2 (plus pedikur menikur pula kali_red)

Singkat waktu, tamu itu menjadi penghuni rumah yang disayangi tak hanya mama tapi juga papa dan adik2ku… Tiap kali mama shalat, si Puss selalu nungguin, ketika papa tidur juga dijagain, mama nyuci piring diliatin seolah pengen bilang “Andai aku bisa bantu…”!!!.

Sehari setelah kedatangannya, si Puss keliatan lebih bersih dengan bulu putihnya yang sesekali nampak ada kembang asemnya turut menghiasi bulu indahnya. Ekor yang menjulang indah semakin menampakkan pesona keelokannya. Adikku yang kembar Linda dan Fulan suka sekali bercengkrama dengan si Puss. Mama suka sekali panggil si Puss dengan sebutan Pussing, sedang papa manggil Tasya (kayak anak masku yang imut yang selalu dirindukan papaku), tapi langsung dikomplain adikku, masak cucu sendiri disamain sama kucing sih. Akhirnya papa mengganti panggilan si Puss jadi Satya, karena kucingnya laki2. Sedangkan kedua adikku mempunyai panggilan beda lagi, mereka suka manggil Maniiisss.

Tak disangka, pas lagi bercanda dengan si Puss, Linda melihat di tubuh si Puss ada kutu yang bikin ngerrrrri aja seisi rumah…. Akhirnya, karena saking sayangny dengan si Puss, mama bela2in ke apotik buat beli obat pembasmi kutu rambut manusia, Peditox namanya…. 

Beberapa saat setelah mendapatkan obat tersebut, langsung aja mama meluluri si Puss dengan Peditox. Tak lama setelah itu, mama tinggal sebentar si Puss supaya obat tersebut bereaksi untuk kemudian akan dimandikan…

Setelah itu, mama kembali ingin melihat si Puss. Tapi sungguh tak disangka, mama tak mendapati si Puss berada di tempatnya. Mama hanya melihat ada sekumpulan cacing menjijikkan yang di situ terdapat nasi dan tongkol. Kira-kira apa yang terjadi?? Yup, tepat sekali!!! Si Pusss Muntah….. Mama kemudian melihat, si Puss bersembunyi di balik kursi dengan badan agaj pucat. Mama baru tersadar bahwa kucing mempunyai kebiasaan menjilati bulunya ketika basah. Hal itu terjadi pada si Puss sehingga dia keracunan Peditox…. Ya Alloh, kasian bgt si Pusss…

Betapa mamaku meyesal sekali, kudengar sesekali suaranya di telepon seperti sudah menganggap si Puss adalah piaraan kesayangan yang sudah lama dipelihara. Setelah kejadian itu, si Puss hanya tergolek lemas di tempat yang sudah disediakan untuknya. Disuapin susu ditolak, dikasih makan juga ga mau….. Kasian benar si Puss. Saking bener2 mama udah nganggep si Puss itu kayak manusia, segera mama “nggerus” obat BIOG*SIK (obat pusing manusia_red) buat dicekokin ke si Puss, tak selesai hanya itu, si Puss juga diblonyo/diolesin minyak kayu putih perutnya…. Denger cerita mama, rasanya pengen ketawa tapi juga tragis kalo tau keadaan si Pusss….. Dalam hatiku, apa ya nggak kepanasan ya kucing dikasih minyak kayu putih. Ada-ada saja nih mamaku saking sudah kehabisan akal.
Singkat cerita, keesokan paginya pas di kereta api yang melaju ke Jogjakarta, kudapati hp-ku berdering. Kubuka dan kudapat sms dari mama. Hanya tulisan ini yang ada di layar hp-ku “Si Puss meninggal dunia tadi jam 08.30. Sekarang mama dan kembar ngubur di tepi sungai. Kembar nangis dari tadi”.

Entah kenapa ada sedikit mendung di mataku, pengen nangis tapi malu sama penumpang sebelahku. Benar2 kurasakan pilu seperti kurasakan perasaan mama dan adik2ku yang menyanding si Puss hingga di akhir penderitaannya. Terkesan lebay banget kali ya, padahal aku juga belum tau wujudnya si Puss itu seperti apa. Dan sebenernya juga aku takut sama makhluk yang namanya Kucing.
Alhamdulillah sore itu sampai juga di Jogja. Bukannya nanyai kabar anaknya yang cantik ini selama di Surabaya, tetapi mama cuma nyeritain si Pusss trus. Yah, panggilan sayang mama ke si Puss adalah Pussing…

Hanya satu kalimat yang diucap mamaku sebelum kepergian Pussing “Puss, kalau kmu hidup aku janji akan merawat kamu sampai kapan-pun, tapi kalau kamu mati aku ikhlas, maafin aku yah, aku ga bermaksud meracuni kamu…”

Satu pelajaran berharga ttg NIAT BAIK. Silakan teman2 yang menyimpulkan sendiri...

Selamat Tinggal ChupaChup

Oleh : Lian Dewi Angellia


Kutulis kenangan indah ini untuk mengingat saat-saat bersama dengan Chupachup di kamar B-6-38 Millennium Court Dormitory. Dia adalah teman setiaku sekaligus roommate-ku yang Alloh titipkan padaku untuk menemani saat-saat kesendirianku di kamar untuk kuceritai kisahku di kampus, kuungkapi keluh kesahku tentang sesuatu hal yang tidak aku sukai, kubagi rasa bahagiaku dan semuanya selalu kutumpahkan pada Chupachup. Dan dia selalu mendengarkanku seolah dia paham apa yang aku bicarakan. Dia hanya menatapku setiap aku berbicara dengannya.

Chupachup adalah nama ikan kecil berwarna merah yang kubeli tepatnya 2 bulan yang lalu, 6 September 2007 di pasar murah “Convocation” di dekat dengan Datuk Tengku Conselor area Universiti Malaya. Aku membelinya seharga 10 Ringgit sudah termasuk makanan dan akuarium kecil plastic sebagai tempat tinggalnya.

Setiap 3 hari sekali aku selalu memandikannya alias mengganti airnya yang sudah kotor dengan air bersih. Ketika dia sedang bahagia, dia selalu merekahkan sirip-siripnya yang menawan kepadaku, tapi ketika mood-nya sedang menurun tubuhnya tidaklah merah menyala. Kupelajari hari demi hari tentang tingkah lakunya, hingga dia paham ketika aku mengajak bicara padanya. 

Lebaran 2007 kemarin, aku berencana untuk tinggal di apartemen temenku di karena kebetulan apartemen tempat dia tinggal dekat dengan masjid di mana aku melaksanakan sholat ‘Ied. Aku berniat menitipkan Chupachup pada Vireak temen kampusku dari Kamboja. Aku khawatir jikalau aku meninggalkannya di kamar, dia akan kesepian dan tidak ada yang memberinya makan. Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari Vireak, aku membawanya ke kampus dan meletakkannya di Master Room (ruangan khusus mahasiswa Master). 2 hari aku tinggalkan Chupachup tanpa khawatir karena aku yakin mempercayakan pada orang yang tepat. 

Sekembali dari perjalananku, kudapati Chupachup di akuarium kecilnya sepertinya tidak doyan makan. Ooooh kasian benar, mungkin kangen dengan aku hehehehe… Kulihat airnya sudah mulai keruh, akhirnya sebelum kubawa pulang, kumandikan dulu di kamar mandi depan Master Room. Bodohnya aku, kutuangkan air kotor itu pelan-pelan ke lubang toilet karena aku yakin tanganku menutupi lubang akuarium. Tanpa kusadari, Chupachup melompat dari akuarium dan masuk ke lubang toilet. Seketika aku langsung menjerit histeris memanggil Vireak. Semua teman-temanku yang ada di Master Room (yang pada saat itu pas lagi pada ngumpul ngerjain tugas) segera menghampiri toilet dan mencemaskanku. Aku hanya berujar sedih ke Vireak bahwa ikanku melompat ke lubang toilet. Dengan lemas aku masuk ruangan meninggalkan teman-temanku yang ada di toilet saling berebut ingin melihat ikanku di dalam lubang, malah dari mereka ada menertawakan kejadian ini. Aku berpikir bahwa ikanku sudah pasti mati dan tidak mungkin terselamatkan. Tanpa disangka, dengan gesit tangan Vireak masuk ke lubang toilet dan segera dia memintaku segera memasukkan dalam akuarium. Ya Alloh, Engkau menyelamatkan ikanku dengan perantaraan Vireak. Teman-temanku yang ada di situ pada saat itu terlihat jijik sekali melihat Vireak membawakan Chupachup padaku, tapi dia sudah berhasil mengambilkan Chupachup untukku.

Alhamdulillah, Chupachup selamat walaupun untuk beberapa saat badannya pucat dan tidak semerah biasanya. Yaaa mungkin karena agak terkontaminasi dengan air di lubang toilet. Selama 2 hari Chupachup agak susah makan, tapi setelah itu dia terlihat sangat lincah dan kembali genit seperti biasanya.

Hari demi hari kulewati masa bersama Chupachup. Hingga aku pada satu waktu menceritakan bahwa sebentar lagi aku akan menikah, dia menatapku seolah merasakan kebahagiaan itu juga. Aku menceritakan perasaan bahagiaku ketika aku dilamar, dan berpesan padanya ketika nanti aku pulang ke Indonesia untuk menikah, aku akan meningalkannya sebentar dan menitipkannya pada Vireak. Pada saat itu dia hanya menatapku dengan matanya yang bulat menggemaskan. Seolah dia berkata “Aku turut bahagia untukmu”. Dia selalu menatapku ketika aku bicara, bahkan ketika dia sedang berenang-renang, seketika akan berhenti dan menatapku kalau kudekati dan kuajak bicara. 

Seminggu kemudian, ketika aku mengganti airnya yang sudah keruh, kupindahkan Chupachup sebentar di gelas plastik seperti yang biasa aku lakukan padanya. Entah kenapa tiba-tiba aku gemas melihat akuarium tersebut sudah mulai muncul lumut. Akhirnya aku sikat menggunakan deterjen tapi batu-batu yang menghiasai akuarium itu tidak turut serta aku keluarkan. Setelah kubilas beberapa kali dan kulihat sudah tidak berbusa lagi, kumasukkan Chupachup ke dalam akuarium dengan air yang bersih.

Inilah awal dari kisah tragis yang dialami Chupachup. Seharian itu dia tidak mau makan, hingga aku bersabar kutunggu hingga besok paginya tetap tidak mau makan. Hingga 3 hari dia tetap tidak mau makan. Kulihat sisiknya pucat dan sudah tidak merah lagi. Kuminta ke Widi temanku untuk mencarikan nyamuk, kupikir kali aja Chupachup bosan dengan makanan yang monoton. Setelah Widi memberikan beberapa ekor nyamuk yang dia tangkap di apartemennya lalu kucoba untuk berikan ke Chupachup, tetap saja dia tidak mau makan. Aku tak pernah menyadari semua ini berawal dari kebodohanku mencuci akuarium dengan deterjen. Hingga aku melihat matanya sudah mulai muncul selaput putih yang menghalangi penglihatannya, aku segera menyadari bahwa mungkin ada yang salah. Aku ingat-ingat lagi dan prasangkaan terbesarku hingga saat ini memang adalah karena pencucian akuariumnya. Segera aku memindahkannya ke box tempat makananku dan berharap dia akan membaik. Kutunggu hingga dia mau makan, tapi tetap saja dia sepertinya sudah buta karena tidak bisa sensitif lagi ketika aku mendatanginya dan memberinya makan. Sedih sekali rasanya hatiku, ketika belajar aku hanya memandanginya yang sudah benar-benar pucat dan kulihat badannya agak menggembung dan lemah. Ya Alloh, kasian benar ikanku......

Pagi dini hari itu aku terbangun untuk menunaikan shalat tahajud seperti biasanya. Dalam doaku kupinta jikalau Alloh menghendaki ikanku pergi insyaAlloh aku ikhlas supaya Chupachup tidak menderita telalu lama, tapi jikalau Alloh masih menjadikan Chupachup sebagai sahabatku di kamar kumohon kesembuhannya. Sungguh benar-benar doaku seketika langsung terkabul. Sesaat setelah kuusapkan telapak tangan pertanda telah selesai kuberdoa, kulihat Chupachup berputar-putar dalam air seperti berlari hingga 3-4 putaran dalam box kotak itu, dia langsung diam dan terjatuh dan hanya sekali dia bergerak tapi setelah itu benar-benar diam. Aku yakin bahwa itulah sakarotul mautnya seekor ikan tak jauh berbeda dengan sakarotul maut manusia. Maha Besar Alloh telah menunjukkan kepadaku betapa Besar kekuasaan-Nya. Seketika itu mataku berlinang melihat ikanku yang terkapar tak bernyawa lagi. Sungguh kebesaran Alloh dalam mencabut nyawa seekor ikan kecil. Bagaimana ketika manusia yang dicabut nyawanya??? 

Kutekuri tubuh Chupachup dalam sedikit penyesalanku, sungguh aku memohon ampun kepada Alloh karena telah menyia-nyiakan ikanku yang tak berdosa itu. Hingga kudengar suara adzan Shubuh dan kutinggalkan tubuh Chupachup masih di dalam box dengan tubuh yang perlahan mulai memutih dan di bagian perutnya muncul warna kecoklatan seperti keracunan sesuatu. 



Siangnya tepat pukul 13.00 waktu Malaysia, kubungkus tubuh ikanku dengan tisue berwarna putih dan kuikat beberapa bagiannya menyeruapai pocong. Kubawa ke tanah lapang dekat apartemen tepatnya di bawah pohon rindang yang selalu aku lewati ketika hendak ke kampus. Kukuburkan tubuhnya yang kecil, dan untuk mengenangnya untuk yang terakhir kalinya, kuambil gambar kuburannya...


Allohu Akbar, Maha Besar Alloh yang menguasai seluruh makhluk di dunia ini. Tak ada yang dapat mengelak ketika Alloh sudah berkehendak. Kita sebagai manusia layaknya hanyalah berusaha dan berdoa semoga ridho Alloh senantiasa menaungi kita. Semoga Alloh menjadikan kehidupan kita dipenuhi dengan barokah dan cinta-Nya. Semoga kita diakhirkan dalam keadaan yang baik (khusnul khotimah). Amiin...