Slide 1

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 2

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 3

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 4

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 5

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Showing posts with label My Little Prince. Show all posts
Showing posts with label My Little Prince. Show all posts

Saturday, July 2, 2011

Cerita Pagi Bersama Thole 'mas Ibrahim'

Minggu lalu, pas jadwal abi agak longgar kami bertiga jogging muterin kompleks. Alhamdulillah mas Ibrahim sudah mau ikutan jalan tanpa minta gendong dari awal hingga akhir. Padahal sebelumnya ummi sudah khawatir kalau-kalau nanti kecapekan pasti bakalan minta gendong. Tapi abi meyakinkan untuk tidak perlu membawa stroller, karena abi siap menggendong. Alhasil, mas Ibrahim kuat jalan jauh dan abi ummi pun tersenyum lega memberikan pujian "Subhanalloh, mas Ibrahim pinter dan kuat ya, udah nggak minta gendong lagi". Mas Ibrahim pun tersenyum senang mendapat pujian dari ummi dan abi.

Saturday, June 18, 2011

Thole di usia 2 tahun 2 bulan 3 minggu 6 hari

Tak terasa waktu cepat sekali berlalu, sudah hampir 27 bulan usia thole sekarang. Di usianya yang sekarang, sebentar lagi dia sudah mau punya adik untuk teman bermainnya nanti. Sebagai anak usia batita, thole alhamdulillah tergolong sehat dan cukup normal saja walau bobotnya hanya 11.5 kg dengan tinggi 82 cm. Dan kalau diplot ke grafik KMS sih masih termasuk normal di warna hijau. Untuk ukuran anak seusianya, thole termasuk standar saja, tidak kegemukan dan tidak terlalu kurus/kecil. Hanya saja, sejujurnya dalam hatiku aku menginginkan bobotnya bisa lebih lagi, karena pastinya lucu khan kalau anak batita itu chubby en' nyempluk hihihi. Tapi rasanya kok susah banget deh, walaupun nafsu makan thole termasuk lumayan, tapi geraknya itu "mana tahan" alias aktif banget jadi ya kalornya banyak terbakar deh...

Wednesday, March 23, 2011

Si Kecilku di Usia 2 Tahun

Alhamdulillah hari ini 22 Maret 2011, Ibrahim anakku genap 2 tahun menghirup udara di dunia yang fana ini. Tepat dua kali dia mengelilingi matahari bersama Abi dan Ummi sebagai hadiah, anugrah dan karunia terindah setelah pernikahan Abi dan Ummi. Tak terasa banyak hal yang sudah dilaluinya dari keceriaan hingga kesedihan.

Di usianya yang kedua ini, tak ada satu perayaan apapun walaupun hanya kecil. Memang adalah menjadi prinsip kami orang tuanya untuk tidak menjadikan hari kelahiran sebagai suatu momen tersendiri untuk dirayakan walaupun sekedar hanya mengucapkan “Selamat hari Ulang Tahun” ataupun “Met Milad” sekalipun.  Semua itu berjalan seperti biasanya, doa-doa terpanjatpun secara khusus pun selalu kami panjatkan setiap harinya.


Pada saat usia Ibrahim 21 bulan yang lalu, dengan sangat terpaksa harus saya sapih karena saya positif hamil lagi. Sebelum saya dinyatakan positif hamil pun (ketika Ibrahim 20 bulan), sebenarnya ibu mertua sudah menyarankan untuk menyapih Ibrahim untuk persiapan kehamilan berikutnya, selain itu supaya meningkatkan nafsu makan Ibrahim sehingga beratnya bisa naik. Akhirnya, dengan bercampur kesedihan saya sapih Ibrahim dibantu abinya yang memberikan support kepada saya, yang mana setiap malamnya turut begadang menidurkan Ibrahim. Masa klimaks penyapihan tersebut berlangsung 3 hari 3 malam saja, dan selebihnya Ibrahim sudah melewatinya tanpa merengek meminta ASI. Akan tetapi, kebiasaan tidur di awal2 penyapihan barangkali menjadi masa-masa sulit baginya, karena kami ummi dan abinya harus bergantian menggendongnya hingga dia tertidur. Kebiasaan ini berlangsung skitar 1 bulan pasca penyapihan.

Di usianya sekarang ini, alhamdulillah Ibrahim mempunyai kemampuan rata-rata standar seperti anak-anak lainnya. Walaupun dalam hal berbicara masil belum terlalu jelas, kadang hanya saya sebagai ummi yang bisa paham maksudnya sedangkan abinya terkadang minta saya untuk mengalih bahasakan apa yang dikatakan Ibrahim. Teman sepantarannya ada yang bicaranya memang sudah sangat lancar, tapi juga ada yang masih belajar mengumpulkan kosakata juga.

Mainan Lego bikin menara

Dalam kemandirian, Ibrahim alhamdulillah sudah bisa makan sendiri sejak usia 15 bulan, usia ini mungkin termasuk agak terlambat dibandingkan teman-temannya yang dalam usia setahun sudah bisa makan sendiri. Sejak usia 13 bulan, Ibrahim sudah saya latih untuk lepas disposable diapers, walaupun untuk malam hari masih saya pakaikan. Hingga di usianya ke 18 bulan, totally Ibrahim sudah tidak memakai disposable diapers lagi. Di usianya yang ke 21 bulan, saya ajak dia untuk toilet training sehingga sehari-harinya pun sudah tidak saya pakaikan cloth diapers lagi melainkan celana biasa. Alhamdulillah, di usia 2 tahun sekarang Ibrahim sudah jarang ngompol lagi, karena selalu rutin saya bawa ke toilet. Kecuali dalam hal pup, dia masih belum sepenuhnya mau di toilet, seringkali masih pup di celana.


Bergaya dengan Kacamata

Dalam bersosialisasi, saya amati perilakunya dengan beberapa kawannya terkadang sudah bisa berbaur, kadang juga masih bermain sendiri dan cenderung tidak peduli dengan temannya. Ibrahim lebih senang untuk bermain dengan anak usia lebih tua. Dalam hal berbagi, Ibrahim belum sepenuhnya bisa melakukannya karena sering sekali saya amati dia merebut mainan temannya atau jika mainannya yang tergeletak dimainkan oleh temannya, maka dia akan mengambil/merebutnya. Saya berharap perlahan, dia bisa belajar untuk berbagi, apalagi sebentar lagi akan mempunyai adik. Dalam berterima kasih, alhamdulillah dia sudah mengetahui konsep tersebut sehingga ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain ataupun telah dibantu mengambilkan sesuatu, dia akan mengatakan "kaciiih".


Dalam hal mengenal angka 1-10 alhamdulillah itu sudah dia kuasai. Beberapa warna pun sudah dia kenal seperti oranye, kuning, biru, dan hijau. Huruf yang dia ketahui masih beberapa saja yaitu A, B, C, O, I, dan W. Dan bentuk-bentuk geometri dasar yang sering dia sebutkan adalah bintang, bulat, telur dan layang-layang. 


Naik ke Rak Buku

Anyway, saya menyadari kemampuan masing-masing anak tidak dapat disamakan. Awalnya dulu sering hati saya sebagai ummi berkecil hati melihat anak2 lain mungkin bisa lebih cepat melakukan sesuatu dibandingkan Ibrahim. Tapi. sekarang saya tidak akan memasang target terlalu tinggi terhadap Ibrahim dalam masa balitanya. Yang penting, saya sebagai umminya bisa mendampinginya selalu untuk menstimulasi perkembangannya, tidak lelah mengajarinya dan selalu sabar mendidiknya. 

Saya teringat kata-kata teman saya seorng psikolog anak, dia mengutip kata seorang Profesor yang menyatakan bahwa anak di usia 7 tahun, anak akan mampu mengejar ketertinggalannya dibanding dengan anak yang di usia 4 tahun sudah lebih dulu distimulasi. Sehingga di usia 9 tahun nantinya, kemampuan mereka bisa akan sejajar. Terlepas dari itu, saya bukan berarti akan bersantai dalam mendidik anak. Tapi bagaimana tetap menstimulasi anak untuk berkembang dan berpikir, walaupun sebenarnya di usia tertentu nantinya anak akan mempunyai kemampuan yang sama dalam hal mengenal huruf, angka, bentuk dan warna. Yang membedakan mereka nantinya adalah ketekunan dalam belajar dan bakat, sehingga itulah yang nantinya membedakan mereka dalam berprestasi.

Bontang, 22 Maret 2011

Friday, July 9, 2010

Jari Manis Yang Lucu

Hari ini seperti biasanya thole dengan ke-superduper aktif-an nya mengikuti ke mana aku melangkah sembari bermain2 dengan apa saja yang didapatinya. Siang ini hujan turun dengan lebatnya, suasana yang asik untuk tidur siang. Tapi abi masih jumatan di Masjid, lagipula aku belum sholat dhuhur, sehingga kubergegas untuk bersiap sholat. Kudapati thole sedang asyik mainan sembari ngacak2 baju yang sudah di setrika di kamar. Kuacuhkan dia sebentar karena aku hendak sholat dhuhur terlebih dahulu.


Seusai sholat dhuhur, aku keluar kamar dan thole mengikutiku walaupun nampaknya dia masih ingin mainan di dalam kamar. Karena dia menarik2 bajuku pertanda dia minta ditemani di dalam kamar, aku pun tetap keluar dari kamar. Ketika aku hendak menutup pintu, tangan2nya yang kecil menghalangi aku untuk menutup pintu dan meraba2 daun pintu. Tanpa sengaja aku pelan2 menutup pintu, tp semakin lama kenapa thole ku berteriak dan menangis kencang. 

Baru kusadari ternyata jari manis thole terjepit pintu karena kulihat agak gepeng. Lalu aku pun menggendongnya dan menenangkannya. Tapi bukannya tenang tetapi malah semakin menjadi tangisnya. Dan aku pun baru menyadari tetesan darah segar bercecer di lantai dengan derasnya. 

Aku pun panik, mamaku yang sedang tiduran pun seketika terbangun dan adikku langsung heboh. Tangis thole benar2 menjadi. "Aku benar2 bersalah"............. Aku tak mampu menenangkannya. Darah segar tak henti2nya mengucur dari jarinya yang kecil. Kain untuk menghentikan pendarahannya pun setiap kali dipasang selalu dilepas thole, mungkin karena risih dan tidak tau kalau itu bisa menghentikan pendarahan.

Beberapa menit kemudian, abi datang dari masjid. Ketika abi datang, jari thole yang sobek sudah tertutupi plester. Melihat adegan menegangkan tersebut, suamiku pun panik. Lalu, suamiku menanyakan apakah sobeknya besar atau kecil, akupun menjawab dengan takut "sobeknya lumayan besar". Seketika langsung suamiku mengajakku untuk ke emergency secepatnya.

Diiringi hujan lebat, kami bertiga menuju ke rumah sakit. Di dalam mobil, tangis thole tak kunjung reda. Suamiku pun menanyakan kronologis kejadian tersebut. Aku pun bercerita sebenarnya. Suamiku tidak memarahiku, tapi kemudian berkata : "Hati2 ya dek, terkadang keteledoran itu bisa membahayakan lho". Mendengar kata2 suamiku, aku menangis dan tak henti2nya meminta maaf kepada anakku yang sudah terluka karena keteledoranku.

Sesampai di RS, thole pun ditangani perawat emergency dengan cepat walaupun tangisnya tetap belum bisa dihentikan. Setelah darah2 yang ada di telapak tangannya dibersihkan dan lukanya dibalut dengan kain kasa, alhamdulillah thole sudah mulai reda tangisnya.

Sesampai di rumah, thole aku gendong dan akhirnya tertidur pulas hingga lama sekali sampai ashar tiba. Ketika terbangun, dia melihat jarinya yang imut terbungkus kain perban dan dia hanya terdiam dan mengamati seolah dia memutar memori otaknya tentang kejadian beberapa saat yang lalu. Setelah mandi, kusiapkan makanan untuknya dan tak kusangka nafsu makannya banyak sekali. Barangkali dia lapar karena mengeluarkan banyak energi untuk menangis. Dan setelah makan, keaktifannya sudah mulai tak terbendung lagi. 

Semoga lekas sembuh ya Nak, ummi sayang thole ^_^

Ya Alloh, ampunilah hamba yang terkadang lalai dalam menjaga amanah-Mu yang Kau titipkan ini. Semoga sedikit teguran ini menjadikan kami semakin sadar dan lebih baik dalam menjaga dan mendidik titipan-Mu. Jauhkanlah kami dari kebodohan dan kelalaian dalam mendidik anak turun kami. Mudahkanlah urusan kami Ya Alloh.... Hiasilah hidup kami dan anak turun kami senantiasa dengan ilmu dan kebaikan. Amiin

Robbi habli miladunka dzuriyattan, thoyibatan innaka sami'ud du'a (QS. Ali Imron 28)
Ya Tuhan, berilah aku seorang anak yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Doa

Bontang, 9 Juli 2010

Sunday, May 16, 2010

Kotor = Belajar

Hari ini adalah hari keempat aku melatih Thole anakku untuk tidak memakai diapers, walaupun malam masih tetap kupakai-in diapers sampai kiriman perlak anti air dr mamaku di Jogja tiba ke Bontang. Suamiku sih sebenernya masih nyuruh aku pakaikan diapers buat Thole, secara yang cari duit beliau ini jadi no problemo membelikan diapers setiap minggunya walaupun sebenarnya berat juga klo diitung2.. Tapi mamaku menyarankan utk dilatih ga pakai diapers, ya memang ibu2 jaman dulu khan tidak mengenal diapers jd barangkali “natural is the best” kali ya….. 


Hari ini hawa begitu dingin, setiap sejam – 1.5 jam sekali kubawa Thole ke toilet untuk ‘pee’. Seringkali gagal karena Thole malah mainan air dan barang2 seperti shampoo, sabun dan lain2. Karena saking lamanya hingga 15 menit di toilet ga kunjung “pee” juga akhirnya kubawa keluar. Dan berakhir Thole “pee” di luar toilet beberapa menit kemudian. Sampai akhirnya suamiku bilang “Dek coba dipancingnya jangan pake air dingin, tapi pakai air anget, mungkin Thole mau trus “pee”. Aku pun menuruti kata2 suamiku. Setelah itu, aku pun mempraktekkan dengan mengguyuri perut hingga kaki Thole dg air hangat, dan alhamdulillah berhasil, jadi aku tak was-was dia akan ngompol dalam jarak waktu sejam setelah itu.

Setelah itu, Thole asik mainan meja kecil abinya dan diangkat mondar mandir kesana kemari. Lalu karena ga ada kerjaan akupun ngenet, karena abinya sedang sibuk ngerjain tugas kantor di dalam kamar. Kuperhatikan Thole mainan di belakangku, jadi aku santai saja. Setelah beberapa menit berlalu, aku sedikit curiga karena tak biasanya Thole membiarkanku di depan computer lama2. Biasanya dia langsung beraksi menggangguku kalau aku di depan komputer. Aku pun tetap masih “enjoy” walau ada sedikit keanehan. 

Akhirnya, karena dah capek fesbukan, aku pun ingin ngajakin Thole mainan. “Oooooh tidaaak”, kulihat di sekeliling tempat aku duduk sudah penuh dengan “sesuatu” lembek berwarna coklat. Aku pun bilang “Lho nak, kok bs ambil coklat ini dari mana?”. Karena tadi pagi aku memang beli coklat mete sekardus utk cemilan di rumah. Pada saat itu memang tidak ada bau apapun. Setelah kucoba utk bersihkan, aku baru sadar itu adalah “pup”nya Thole. Huaaaaaaaaaa tidaaak…. Dari lantai, karpet hingga meja kecil utk kerja abinya penuh dg “lumpur”nya Thole…. Aku langsung berteriak ke abi, “Abii…. sesuatu yang buruk terjadi..” Lalu suamiku pun keluar kamar hingga dia cekikikan melihat ada satu sudut bagian rumah sudah berubah penampilannya. Dengan sigap aku gendong Thole dan mencuci badannya hingga bersih. Lalu kupasrahkan ke suamiku utk diajak main supaya tidak menggangguku membersihkan “lumpur”nya.

Aku teringat 3 hari sebelumnya memang pas aku mengajaknya ke toilet, kebetulan dia sedang mau “pup” ketika sekalian “pee”, dan ada juga pas dia tanda2 “pup”, langsung kularikan ke toilet. Tapi hari ini aku lupa mengajaknya utk “pup” karena memang pagi ini jadwal ke pasar dan pulangnya sibuk ngurus belanjaan masuk kulkas. Aku tidak menyesal dengan semua ini, malah justru aku geli mengingat kejadian tadi, alhamdulillah dikasih pelajaran baru… Jadi ingat iklan deterjen “Tak Ada Kotor, Tak Belajar”. 

Luv u my son.... tak ketinggalan juga ummi sayang abi :D