Slide 1

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 2

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 3

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 4

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Slide 5

http://ummimenggapaimimpi.blogspot.com

Showing posts with label My Hubby. Show all posts
Showing posts with label My Hubby. Show all posts

Monday, May 2, 2011

Romantisme Ala Suamiku :)

Suamiku bukanlah laki-laki yang romantis, bahkan dia hampir tak pernah memujiku. Kalau aku menanyakan apa yang membuatnya jatuh cinta padaku, jawabannya adalah simple : karena aku berjilbab, gigiku rapi, dan aku putih. Beberapa kali aku memancingnya dengan pertanyaan apakah aku cantik? Dia seolah pura-pura tidak mendengarnya dan tersipu malu kemudian mengacuhkanku. Entahlah, terkadang aku merasa aneh juga dengan suamiku. Di kala setiap laki-laki memuja istrinya, suamiku tidak demikian. 
Aku sadari, suamiku memang tidak pernah mengenal sosok perempuan sebelumnya. Bahkan dengan adik perempuannya sendiri dia cenderung kaku walaupun aku tahu dia sangat perhatian dan sayang. Perlahan dengan sifatnya itu, justru aku kagum padanya, bagiku romantisme itu tidak harus ditunjukkan melalui kata-kata manis, tapi apa yang kurasakan dari suamiku itu adalah melebihi suatu romantisme......


Memory Pernikahan di Penghujung 2007
Pernikahanku dengan suami akan segera digelar besok pagi dengan rencana pesta perhelatan sederhana, yang sudah dipersiapkan dari keluargaku. Hatiku berdegup kencang membayangkan besok aku berdampingan dengan laki-laki yang sebelumnya memang belum kukenal, bahkan kami belum pernah bercakap-cakap secara langsung, walau beberapa kali kami komunikasi melalui chatting. Aku juga yakin calon suamiku merasakan getaran perasaan yang sama membayangkan peristiwa penting yang diharapkan terjadi sekali seumur hidup. Mahar pun sudah dipersiapkan pihak suamiku untuk akad nikah besok.Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, keesokan harinya akad nikah pun berjalan dengan lancar demikian pula dengan acara walimatul ‘ursy yang dihadiri oleh kerabat, sahabat, dan relasi kami berdua.
Setelah resmi menjadi suami istri, suamiku pun memboyongku ke daerah tempat dia bekerja yaitu di Bontang. Di tempat tersebut, aku memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar karena daerah tersebut memang jauh dari keramaian dan hingar bingar, tidak seperti di kota tempat asal kami di Jawa. Kehidupan kami sebenarnya bisa dikatakan lebih dari cukup, akan tetapi kebiasaan hidup sederhana memang sudah menjadi ciri khas kami.
Suatu hari, di sela waktu senggang aku mengobrol dengan seorang kawan via internet. Tanpa disangka, kawanku tersebut curhat mengenai rencana proses pernikahannya yang ‘bribet’.
Lalu kawanku tersebut bertanya, “Aisyah, dulu pas nikah kamu dikasih mahar apa?”.
Dengan enteng ku jawab : “Mukena, sajadah dan alqur’an”.
Dengan kalimat yang agak sedikit heran, dia bertanya lagi : “Beneran nih xixixi?? J masak sih?? suamimu khan kerjanya di perusahaan gas gitu loh, masak ga ada pake dikasih perhiasan gitu kayak cincin kawin?
Sambil tersenyum aku jawab : “Orang nikah itu khan yang penting sah di hadapan Alloh. Toh cincin kawin itu sebenarnya juga tradisi beberapa kaum saja. Hati-hati loh karena ada ulama yang menentang keras adanya tukar cincin kawin dengan alasan bisa jatuh ke dalam tasyabbuh (meniru tradisi orang kafir),apalagi jika sampai ada keyakinan bahwa selama cincin tersebut masih di tangan kedua mempelai maka rumah tangga keduanyaakan tetap rukun, bisa terjatuh dalam kesyirikan. Sorry ya klo kurang berkenan untuk penjelasanku yang terakhir tersebut, aku cuma menyampaikan yang kutau aja sih, please don’t be angry ya say.…”
Dengan cepat dia membalas : “Oh really??? Aku baru dengar nih…Gapapa kok Aisyah, aku malah seneng bs ngerti ada pendapat ulama kayak gitu. Kamu ini kayak ga tau aja aku, mana aku pernah marah sama kamu Aisyah.
Aku pun tersenyum lega : “hehehehe, syukurlah say lega deh rasanya…..”
Cukup lama kami tenggelam dalam keasyikan mengobrol, tiba-tiba suara loper koran datang menaruh koran di teras. Suamiku pun bergegas keluar mengambilnya karena tak sabar dengan berita hari itu. Sedangkan aku merasa lelah terlalu lama mengobrol dengan kawanku lalu berpamitan untuk sign out. Sembari duduk menjejeri suamiku, aku ikut-ikutan membaca koran di samping suamiku. Ketika sedang melihat-lihat judul-judul berita, ada iklan besar bertuliskan “SALE DIAMOND” dengan gambar-gambar menarik hati seperti ada cincin, kalung dan gelang emas bertahtakan berlian. Sambil agak bercanda, aku bergumam : “Mas khan ga pernah beliin perhiasan saya selama nikah, mumpung ada “SALE” tuh mas xixixixi”. Suaminku pun hanya diam karena asyik membaca berita. Karena takut mengganggu konsentrasi suamiku dalam membaca, aku pun menyingkir dan bergegas mandi karena hari sudah sore.
Beberapa bulan berlalu, waktu cuti suamiku pun tiba dimana kami berdua bisa pulang ke Jawa untuk mengunjungi keluarga. Sehari sebelum keberangkatan kami ke tanah jawa, sandalku terlihat agak terkelupas jahitannya, maklum saja memang sudah lama sekali dipakai jauh sejak sebelum nikah sehingga sudah usang. Suamiku menjanjikan akan membelikan sandal baru sesampainya di Jawa, karena memang pilihan dan harga barang di Jawa lebih bersaing dan bagus dibandingkan di tempat kami tinggal sekarang.
Di Jawa, suamiku tak sabar ingin segera jalan-jalan ke mall. Wajar saja karena sebesar-besar mall di Bontang ya besarnya seperti mall kecil saja di Jawa. Suamiku nampaknya ngebet sekali ingin jalan-jalan ke Ambarukmo Plasa (AmPlas), mall besar dan baru di Jogjakarta. Tak lama, suamiku berkata : “Dek, ayo kita ke AmPlas buat beli sandal baru kamu”. Aku pun menjawab : “Oke lah mas, ayo kalau gitu…”. Akhirnya aku pun mengikuti ke mana suami melangkahkan kaki.
Ketika berjalan-jalan di tiap sudut toko-toko, suamiku sungguh menikmati suasana berbeda dari kesehariannya. Tiba-tiba suamiku berhenti di toko perhiasan, dan masuk ke toko tersebut. Tentu saja aku kaget karena suamiku kenapa genit sekali masuk ke toko perhiasan segala. Takut malu dibilang “ndheso”, aku hanya diam menguntit suamiku. Lalu suamiku bilang “Dek, pilih aja mana kalung kesukaanmu!!”.
“MasyaAlloh mas…..”, aku bergumam pelan “Apaan sih mas, ga usahlah aneh-aneh”. Eh, suamiku malah gregetan bilang “Udah pilih aja Dek, katanya dulu pengen dibelikan, selama nikah khan belum pernah kubelikan perhiasan katanya..” dengan nada mengejek suamiku menimpaliku.
Dengan agak malu-malu dan lumayan shock, aku memilih kalung emas bertahtakan berlian yang tak pernah dia impikan sebelumnya. aku merasa malu kepada suami, rasanya aku banyak sekali menuntutnya padahal dulu dia hanya bercanda. Karena tak ingin memberatkan suamiku, aku memilih kalung yang paling murah walaupun tetap saja harganya tidak murah.
Hari itu, ditutuplah kisah manis tersebut dalam sebuah catatan kecil di diary kehidupan-ku :
Pemahaman romantisme itu berbeda untuk setiap orang
Romantisme itu adalah bukan selalu membuat pasangan kita selalu bahagia dan tersanjung setiap saat
Terkadang romantisme itu adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka yang membuat hati kita berkesan walaupun hanya dilakukan sekali seumur hidup sehingga akan teringat sampai kapanpun.
Lalu bagaimanakah romantisme menurut Anda?

Saturday, April 16, 2011

Suamiku Hebat

Suamiku bukanlah laki-laki yang suka membantu istrinya di dapur, suamiku juga bukanlah laki-laki yang suka membantu istrinya membereskan rumah, suamiku tidak suka berkebun, suamiku bahkan cenderung cuek terhadap pekerjaan rumah. Tapi, suamiku adalah suami hebat yang sangat kubanggakan.

Hampir tiap bulan sekitar 2-3 kali aku meninggalkan anakku untuk keperluan arisan bulanan kantor suamiku maupun arisan RT. Aku hanya mempercayakan si kecilku kepada abinya. Alhamdulillah, Ibrahim memang sangat dekat dengan abinya, jadinya bukan masalah yang besar ketika harus kutinggalkan paling lama 3 jam bersama abinya. Sebelum Ibrahim disapih, aku memang sangat khawatir jika meninggalkan si kecil lebih dari 2 jam, tapi setelah penyapihan, aku cenderung lebih tenang meninggalkannya.

Berdua di KL express saat hanimun


Awalnya aku agak ragu saat pertama kali meninggalkan anakku walau dengan abinya sendiri ketika usia si kecil sekitar 8 bulan. Karena aku sadar sekali, suamiku berasal dari keluarga yang berada jadi cenderung manja dan cuek dengan pekerjaan wanita. Tapi saat itu suamiku meyakinkan bahwa aku ga perlu khawatir meninggalkan Ibrahim bersamanya kalau hanya untuk arisan. Saat itu memang aku sudah enggan mengajak anakku untuk arisan karena polahnya yang sudah mulai aktif.

Kali pertama alhamdulillah berhasil, karena si kecil tidak rewel dan menjadikan aku semakin percaya kepada suamiku untuk selanjutnya kuminta menjaga anakku. Pernah beberapa waktu saat kutinggal, anakku pup sehingga suamiku dengan terpaksa harus mau tidak hanya mengganti popoknya tapi juga harus membersihkan kotoran dan mencuci badan anakku. Ternyata suamiku bisa, dan aku bangga dengan kehebatan suamiku. Bahkan mertuaku pun heran dengan kemampuan suamiku itu.

Pernah satu waktu, aku ada acara bazaar di hari Sabtu. Aku pun meminta ijin suamiku untuk turut bergabung dengan berjualan mainan edukatif. Saat itu, Ibrahim berusia 15 bulan. Suamiku mendukungku dan meyakinkanku untuk turut serta. Dia berjanji menjagakan Ibrahim untukku. Alhamdulillah, suamiku berhasil mengurus anakku mulai dari menyuapinya sarapan (kebetulan makanannya beli nasi kuning saja, karena sudah mulai bisa makan nasi), hingga berusaha menidurkannya walaupun tidak berhasil karena saat belum disapih. Tapi alhamdulillah Ibrahim tidak rewel hingga acaraku berakhir dari pukul 07.00 - 13.00

Di saat kami berjalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan atau bepergian, hampir sering sekali suamiku lah yang menggendong dan menjaga anakku, sedangkan dia membiarkanku berjalan tanpa beban. Hingga mamaku sendiri pun keheranan dan berkomentar : "Biasanya anak laki-laki itu dekatnya sama ibunya lho, kok ini dekat banget sama bapaknya". Pernah juga satu hari saat kami berada di bank, saat antrian banyak sekali, aku hanya duduk menanti giliran sedangkan suamiku berdiri sembari bermain bersama anakku. Saat itu ada bapak satpam yang berkomentar : "wah, anaknya dekat sekali ya pak dengan bapaknya daripada ibunya".

Selain itu, suamiku juga mempunyai banyak kehebatan lainnya. Di edisi selanjutnya deh akan saya sharing satu persatu kehebatan suamiku yang membuatku semakin sayang dan cinta kepadanya. Barangkali hal ini merupakan hal yang sepele untuk para wanita yang suaminya lebih hebat, tapi bagiku suamiku lebih dari sekedar hebat...... :)



Monday, May 10, 2010

You’re one of the best I have

Pada waktu pernikahan, banyak sekali saudara-saudaraku yang komentar kaget juga karena ga menyangka aja kok aku menikah secepat itu. Upacara perhelatan pernikahan kami pun saat itu diadakan ala kadarnya di suatu gedung kecil di Jogja. Pada saat dipajang di depan pada tamu undangan, ada budheku dari pihak keluarga mamaku nyeletuk di kerumunan tamu keluarga, “Waaah, suaminya Lian kayak Tengku Firmansyah ya…” Langsung deh, adik2ku pada tertawa terpingkal2 mendengarnya.. Sesaat pada waktu istirahat aku diceritain oleh adikku, aku tak bisa menahan tawa saking gelinya…. Huahahahaha……



STOP berhenti ketawanya!!!!!!!! Suamiku lebih ganteng dari Tengku Firmansyah….

--------------------

Teringat akan masa cuti beberapa bulan yang lalu. Kebetulan saat itu kami cuti di Jogja, ada om dan tanteku sedang berkunjung ke rumah. Memang pada saat pernikahanku dulu, om dan tanteku ini tidak hadir karena ada sesuatu hal, padahal sehari setelah menikah aku langsung diboyong ke Bontang, jadi om dan tanteku ini blm pernah melihat sosok suami yang menikahi aku. Ketika itu tanteku bertanya : “Lian, mana suamimu?”, kujawab aja : “Lagi keluar tante…”. Kayaknya tanteku ini penasaran banget dengan suamiku. Mamaku sih sering cerita ttg sosok suamiku ini ke tanteku. Hal-hal yang diceritakan mamaku sih secara umum, yaitu -suaminya Lian itu jenggotan dan celana cingkrang-. Entahlah apa yang ada di pikiran tanteku, karena memang keluargaku dari pihak papa adalah keturunan Tionghoa, jadi barangkali radha2 syok juga bagi om dan tanteku yg blm pernah melihat suamiku, tapi bagi mereka yang sudah pernah melihat ya biasa aja sih.

Siang itu di hari yang sama, suamiku baru datang lalu kusambut dengan ucapan : “Sayang, ini lho om Yoe Djiang dan tante Yuyun, kenalan dulu ini adik papa. Langsung suamiku memberikan salam hormat kepada mereka berdua. Lalu suamiku pamit untuk masuk kamar sebentar karena ada sesuatu yang perlu diambil. Seketika itu tanteku langsung bilang dengan bisikan bersemangat dan maut : Waaah Lian, suamimu ganteng banget ya, badannya tinggi, gagah gitu, ga nyangka lho tante, tante kira suamimu itu gemuk item jenggotan….. TUIIIIING gedubraaak, kayaknya suamiku itu biasaa aja deh dalam hatiku sambil cekikikan, lebbay bgt kayaknya tanteku ini!!!!!!!!!!! Aku langsung terbayang wajah Nurdin M Top yang dipublikasikan televisi2 pasca ditembak Densus 99. Memang wajahnya ancur banget, keliatan gemuk dan berjenggot tebal. Ampun dah, mungkin tanteku mikir suamiku sosok kayak Nurdin M Top kali ya, ckckckck…. 

Mungkin memang benar, kalau kita sudah membayangkan sesuatu yang buruk bgt, ketika kenyataannya biasa aja pasti kesannya seperti baguuuus bgt. Tapi kalau kita sudah membayangkan sesuatu itu baguuuus sekali ternyata kenyataannya ya biasa aja, kesan yang timbul adalah jeleeek sekali hehehe :D.. Untung deh kesan yang baik diterima suamiku hehehehe….

Monday, May 3, 2010

Fesbuk dan Para Suami

Fenomena fesbuk akhir2 ini memang menjadikan suatu cerita tersendiri baik dalam pembicaraan keluarga, persahabatan, bisnis, dunia artis maupun dalam lingkup arisan ibu-ibu sekalipun. Kisah-kisah menarik yang menyenangkan maupun menyedihkan selalu saja ada menghiasi maraknya perkembangan fesbuk di dunia maya. Beberapa cerita yang membuat kita sedikit tersenyum simpul terjadi padaku dan beberapa kawan yang kebetulan mempunyai pengalaman sama tentang fesbuk dan para suami.



Suamiku memang tidak suka untuk ikut-ikutan arus dengan membuat akun fesbuk karena memang merasa tidak butuh kali ya. Selain itu, mungkin juga karena suamiku sudah capek kerja jadi malas juga bikin-bikin akun segala. Tambah lagi, -barangkali- suamiku ‘sedikit’ agak trauma dengan situs jejaring pertemanan seperti saat dulu marak2nya FS. Dulu aku sering mengirimkan komentar2 romantis ke akun suamiku, seperti misalnya : “Met Malam Sayang, jangan lupa maem yg banyak ya”, atau mengirimkan gambar2 I LOVE U dan semacamnya. Ya maklum saja karena kami suami istri yang terpisah jarak jauh, jadi pengen mengekspos kemesraan. Hihihihi eeeh ternyata suamiku malu sama temen2nya, dan jadinya ga mau buka2 akunnya lagi hahaha alias trauma.com… Padahal sering aku memintanya untuk membuat akun fesbuk, ya supaya bisa nge-link gt di profilku hehehe, masak statusku married doang sih tnp nge-link ke sapa2 hahaha…. Karena ngiler juga aku lihat kawan2ku yang keliatan romantic banget dengan saling kasih semangat, saling komentar antar pasangan dan lain-lain, hihihihi. Suamiku langsung ngacir deh kalau aku nyuruh dia bikin akun FB. Tapi anehnya, kalau suamiku telponan dengan kawan-kawannya kuliah dulu, dia pede banget nanya ke temennya : “Bro, kamu ada fesbuk ga?” (nadanya kayak dia punya akun fesbuk aja trus mau nge-add gt).. Lalu kawannya bilang : “Ada Bro, add aku yah!!”.. Eeeh suamiku balik bilang : “Kmu aja yang nge-add istriku yah, aku ga ada akun FB soalnya.”. Gubraaak, temennya langsung cekikikan bahkan ada salah satu kawan yang bilang “ Ah, cemen kamu, braninya bersembunyi di balik ketiak istri.” Dengan jawaban konyol suamiku bilang : “Ah nggak ah, takut fans2ku jaman kuliah dulu nguber2 aku klo aku punya FB, sekarang aku khan udah nikah”… Ckckckck… bener-bener nih suami idaman yang baik hati dan tidak sombong batinku serta suka menabung (jaka sembung makan duren, ga nyambung fren) :D

Anehnya lagi, walau ga mau bikin akun FB, suamiku itu suka sekali ngeliat-ngeliat status di FB ku. Apalagi klo ada status yang lucu dan menggelikan, suamiku hanya mesam mesem ga jelas gitu. Karena memang teman2 dalam fesbukku ada juga yang sebenarnya teman suamiku. Bahkan dari status kawan-kawan gitu, terkadang bisa jadi obrolan ringan yang berbobot di antara kami, bahkan tak jarang pula status teman itu jadi tema kultum suamiku (kayak ustad sejuta ummat aja). Salah satu misalnya ketika ada kawan yang nulis status ttg “Met Valentine buat smua, dst…” Langsung deh, ada ceramah singkat dari suamiku, bahwa dalam Islam itu hanya dikenal 3 hari besar yang dirayakan, yaitu Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Jumat, selebihnya itu ga usah diada2in. Kultum ditutup lalu aku fesbukan lagi deeeh.

Cerita lain sebut saja teman 1 mempunyai suami (ST1) ada pengalaman unik juga dengan fesbuk dan suami. Suaminya itu sama dengan suamiku yang tidak mau membuat akun FB, mungkin dengan alasan salah satunya sama dengan alasan suamiku di atas. Tapi lebih parahnya lagi, ST1 ini lebih aktif melihat FB. Misalnya, pulang kerja sambil makan siang langsung duduk di depan computer trus ngliat2 update status kawan2 istrinya. Terkadang ST1 yang menulis komentar2 ke kawan2 FB istrinya itu, yang orang lain mengira pastinya itu yang menulis adalah istrinya. Geli membayangkan suami istri rebutan FB, padahal FBnya milik istri xixixi… Aya-aya wae!!! Ketika kucritakan ini ke suamiku, dia tertawa terbahak-bahak sambil bilang “Wah brarti masih mending aku ya, ga sampe nulis komen sgala”.

Cerita selanjutnya sebut saja teman 2 mempunyai suami (ST2). Sama halnya denga suami2 di atas, ST2 juga tidak mau bikin akun FB, tapi sering ngliat2 status2 dan informasi2 yang ada di FB kawan2 istrinya. Pada suatu hari, ada friend istrinya ini menyapa dengan chatting “Hai sayang, lagi apa nih”. Maklumlah, istrinya memang cantik dan banyak kawannya, dan kebetulan kawan yang menyapanya itu laki2 dan suka bercanda. Langsung ST2 membalas balik chattingan kawan istrinya itu : “Brengsek looh, ini istri orang tau”. Wakakaka biar tau rasa deh tuh orang, padahal suaminya cekikikan aja. Langsung deh kawannya itu meminta maaf dan jadi ga enak sendiri. 

Ada sebenarnya kisah-kisah yang mirip terjadi. Tersenyum simpul menyadari hal ini ternyata sudah bukan sesuatu yang unik lagi, xixixi.... Tapi menurutku pribadi no problemo lah, barangkali ada kepedulian suami tentang dengan siapa aja istrinya itu bergaul dengan ikutan nimbrung di satu akun yang sama...

Sunday, April 25, 2010

Gedubraaaak.......... Oooh Suamiku...

Laki-laki dan perempuan sudah dijodohkan berpasang-pasangan. Tentu saja sifat masing-masing sangat beragam. Kadang antara suami dan istri sifatnya ada yang bertolak belakang tapi ada juga yang sama. Sebagai contoh, kalau aku dan suami kebetulan mempunyai sifat yang hampir sama, yaitu kalau ngomong spontan - huhuy kaliii (kadang ga pikir panjang kayak kacang panjang), suka bercanda alias ga serius, ya pokoknya ada banyak hal yang sama.... Ga nyangka juga sih sebenernya, karena dulu banyak orang terutama sahabat-sahabatku memprediksi aku bakalan dapat suami yang pendiam (karena aku dominan - jadi mgkn bs balance). Ternyata eh ternyata, semua prediksi orang-orang salah.... Hahahaha, aku mendapatkan suami yang baik hati dan tidak sombong serta suka menabung... Pokoknya dasa dharma pramuka gitu deeeh :D



Hari ini, aku dibuat sedikit keki tapi geli juga sama suamiku yang baik hati itu. Seperti biasanya ketika ada tamu, aku langsung masuk kamar karena yg bertugas membuka pintu adalah suami... Aku akan keluar jika suamiku memanggilku untuk keluar . Jadi aku menunggu komando saja dari suamiku apa aku perlu keluar atau tidak.. Nah, karena tamunya saat itu adalah suami istri jadi aku harus keluar. Aku pun menanti aba-aba suamiku untuk keluar. Tiba-tiba, suami bilang "Dek, pakai pakaian ya!!" DUEEEEEEENNGGG maksod loooh!!! (maksudnya tuh aku disuruh berjilbab dan keluar kamar).... Tiba-tiba tamunya cekikikan, [hayoo tamunya pasti mikirnya macam2]... Woalaaaah suamiku yang kusayangi seluruh jiwa dan raga, kenapa kalimatmu begitu ambigu. Bikin malu aja nih ckckck.... 

Ceritanya berakhir di sini saja.... aku keluar dari kamar dengan sedikit malu malu kucing.....